Sisi Ekonomi Dari Problem Angkutan Kota Jember

Dua hari ini koran lokal memberitakan perihal konflik antara awak angkutan kota (yang dikenal sebagai lin) dan awak bus antarkota. Versi awak angkutankota, bus antarkota telah merugikan mereka karena awak bus sering menaikkan dan menurunkan penumpang sepanjang jalur Terminal Pakusari dan Terminal Tawangalun (Radar Jember, 1 April 2011). Awak lin menilai bahwa perilaku awak bus ini yang menyebabkan turunnya jumlah penumpang lin. Puncaknya adalah seluruh awak lin melakukan mogok kerja pada 30 Maret 2011 sehingga pelayanan transportasi publik di dalam kota Jember jadi lumpuh. Akibatnya, masyarakat terkena getah dari konflik antar kedua pihak tersebut.

Dari sisi (sudut pandang) ekonomi, ada beberapa poin penting berkenaan problematika ini, yaitu:

a.       Konflik ini merupakan suatu indikasi bahwa pasar transportasi publik dalam kota Jember telah over-supply. Jika tidak over-supply, awak lin tidak akan pernah merasa bahwa sebagian (mungkin sebagian kecil) dari calon penumpangnya telah diambil oleh operator lain. Over-supply menyebabkan awak lin sensitif terhadap perubahan-perubahan yang terjadi.

b.      Over-supply di pasar transportasi publik dalam kota ini dicirikan juga oleh banyaknya jenis moda transportasi di jalan raya dalam kota. Awak lin bukanlah satu-satunya operator transportasi di dalam kota. Operator lain seperti taksi, becak, dan ojek merupakan supplier lain dalam pasar ini. Selain itu, kendaraan pribadi, terutama sepeda motor, adalah operator “non komersial” dalam transportasi publik ini.

c.       Pertumbuhan populasi kendaraan roda dua seiring dengan mudahnya membelinya  atau memilikinya telah menyusutkan permintaan terhadap jasa transportasi publik dalam kota. Akibatnya, ukuran pasar transportasi publik dalam kota juga menyusut. Sudah bisa dibayangkan, penurunan permintaan ini ditambah lagi adanya over-supply akan menyebabkan peningkatan intensitas persaingan dalam jasa transportasi publik ini.

d.      Preferensi calon penumpang telah banyak mengalami pergeseran. Calon penumpang memimpikan sistem transportasi yang lebih murah dan nyaman dewasa ini. Kondisi operasional lin tidak cukup memenuhi impian ini karena lin tidak memberikan kenyamanan perjalanan.  Akibatnya, calon penumpang memutuskan untuk menggunakan kendaraan pribadi untuk memenuhi kebutuhan transportasinya.

e.      Penyelesaian konflik yang terjadi memang perlu dilakukan. Tetapi penyelesaian tersebut secara ekonomi akan bersifat jangka pendek. Permasalahan inti dalam transportasi publik lebih disebabkan oleh perubahan pada sisi supplai dan permitaan yang ada di pasar. Intervensi atau regulasi baru harus diorientasikan terhadap perubahan-perubahan itu agar penyelesaian masalah bisa bersifat jangka panjang.

Bagaimana pendapat Anda?

About these ads

2 responses to this post.

  1. salam kenal mas hadi paramu. saya juga warga jember, namun sekarang sedang belajar mengenai teknik transportasi di Bandung. saya tertarikj nih dengan artikel ini, dan saya juga berminat mengusulkan sesuatu untuk masalah ini.

    waktu saya pulang ke Jember beberapa bulan yang lalu, memang tampaknya terjadi pergeseran pola pergerakan di Jember. dulu, waktu saya masih tinggal di Jember, Lin itu hampir dapat dipastikan selalu penuh terisi penumpang, Dulu, sekitar 12 tahun yang lalu, diperlukan kurang lebih 15 – 30 menit untuk menunggu angkutan umum lewat daerah saya (daerah muktisari, tegal besar). nah beberapa tahun kemudian waktu tunggu angkutan umum ini berkurang, yang berarti mengindikasikan jumlah angkutan telah bertambah.

    Saat ini saya lihat, setelah jumlah angkutan umum meningkat, hampir sebagian besar penumpang lin tersebut ternyata lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi (terutama motor) untuk berpindah dari satu titik ke titik yang lain. akibatnya Lin jadi sepi penumpang. saya lihat, waktu ngetem angkutan umum di beberapa lokasi mereka biasa ngetem, jadi makin lama, karena sepinya penumpang. Nah kondisi seperti yang jelaskan diatas mungkin juga menyebabkan gesekan kecil antara bis antar kota dengan lin menjadi membesar.

    dalam mengatasi permasalahan ini, tidak bisa kita hanya memanage dari sisi supply saja, tapi juga perlu ada manage dari sisi demand pergerakan.

    mungkin ada beberapa hal yang dapat dilakukan pemkot jember dalam rangka menyelesaikan permasalahan ini :

    1. Re-Routing angkutan kota dan angkutan antar kota Jember
    bisa kita lihat mas, rute angkot jember itu mayoritas masih seragam kan dari Tawang alun sampai alun-alun. sementara masih banyak daerah-daerah yang tidak tersentuh oleh jalur angkutan umum. nah perlu diadakan penelitian mengenai potensi demand pergerakan penumpang dari tiap daerah di jember. nah dari kajian ini kemudian di tentukan rute yang baik untuk angkot-angkot itu. re routing ini tujuanya juga memperkecil persaingan penumpang antar supir angkot, dengan cara mengurangi jenis angkot yang melintas di suatu ruas jalan, dan memindahkan beberapa trayek angkot ke rute lain yang lebih membutuhkan angkot namun tidak terlintasi angkot.

    penataan rute juga kemudian dilakukan untuk jalur bus antar kota dan truk. jangan sampai rute angkot beririsan dengan rute bisa antar kota. bis dan angkot hanya bisa bertemu di terminal saja (dan di dalam terminal ya). perlu dipertimbangkan juga untuk mengatur tata letak terminal yang sudah ada sekarang, mungkin seiirng pertumbuhan kota jember, sekarang sudah waktunya memindahkan beberapa terminal ke titik yang lbih luar lagi.

    rerouting juga harus memperhatikan konsep antar moda. Coba lihat sekarang, kalau turun dari stasiun, orang masih harus berjalan jauh dahulu baru bisa dapat angkot, nah kan susah itu. coba kalau turun dari bis, turun dari kereta, bisa langsung bisa dapat angkutan umum pasti enak kan. terus juga yang perlu diatur sistem antar modanya bukan hanya dari sisi angkutan umum dalam kota saja tapi juga angkutan pedesaan, jadi istilahnya harus ada kepastian gitu, untuk warga yang tinggal di wilayah luar kota, setelah turun dari angkutan kota bisa langsung dapat angkutan pedesaan. nah dengan demikian masyarakat tidak akan memilih menggunakan ojek, atau memilih menggunakan bus antar kota tadi.

    mungkin masalah yang selanjutnya akan muncul adalah “dikemanakanya angkutan informal yang semula melayani trayek yang tidak dilayani angkutan umum?”. ojek dan becak dll, diatur juga routenya. kan tadi saya sudah saya usulkan tentang kajian potensi demand pergerakan se jember raya, nah dari kajian itu, untuk tempat-tempat dengan demand pergerakan kecil, cukup dilayani dengan ojek, becak, delman dan lain-lain. angkutan-angkutan ini lebih diarahkan menjadi feeder untuk menuju jalur angkutan umum. contoh realnya, ya becak, ojek, delman ini diletakan di perumahan-perumahan, pedesaan dll.

    2. Membuat suatu mekanisme yang membuat warga kota Jember lebih meminati menggunakan angkutan umum dibanding kendaraan pribadi.
    caranya bisa dengan :

    a. pendataan dan pengendalian jumlah angkutan umum (dishub nih, jangan korup mulu, uang daftar trayek aja dipikirin, pikirin jumlah angkotnya pak)

    b. subsidi angkutan umum, sehingga tarif bisa lebih murah. Tarif angkutan di Jember itu mahal lho pak. soalnya di Bandung yang biaya hidup dan jumlah angkot yang berlebihan telah menjadi masalah besar saja, tarif angkot maksimal 4000 (disini jauh dekat tarifnya beda, variasinya minimum 1000 maksimal 4000, bepergian dengan 4000 rupiah itu sudah amat sangat jauh sekali perpindahanya).

    c. masyarakat lebih menggunakan kendaraan pribadi, karena faktor ketepatan

    waktu dan kebisaan untuk diandalkan. nah untuk itu perlu diatur sehingga angkot datang pada waktu-waktu yang terjadwal dan lokasi-lokasi yang pasti (halte misalnya) sehingga masyarakat bisa menggantungkan kegiatanya dengan menggunakan angkutan umum.

    d. kenyamanan angkutan umum perlu juga diperhatikan, maka dari itu revitalisasi dan peremajaan angkot perlu di lakukan. yaa kalau angkotnya ga nyaman, mana mau orang naik angkot?. jadi sepilah angkotnya. ribut lagi mereka ntar.

    e. persulit pemilikan kendaraan pribadi.
    kira-kira itu usul saya,,hmmm maaf panjang, karena menurut saya menyelesaikan permasalahan transportas itu tidak bisa dari satu titik saja, karena transportasi itu terkait dengan aspek-aspek kehidupan masyarakat lainya. itu bus antar kota dan lin ribut, saya pikir juga bukan karena masalah hari itu saja tapi ada faktor-faktor lainya, seperti yang saya jelaskan di atas. dan masalah transportasi itu memang sekarang di jember belum kelihatan berbahaya, tapi nanti kalau jember sudah makin berkembang, akan muncul masalah transportasi yang sudah terlambat untuk diselesaikan. terutama masalah angkutan umum…

    Balas

    • terima kasih sudah mengomentari tulisan ini. menurut saya, untuk kota sebesar Jember, upaya untuk mengatur kepemilikan kendaraan pribadi kurang fisibel. secara ekonomi, kendaraan pribadi adalah produk substitusi dari public transportation. jika permintaan akan kendaraan pribadi diturunkan, kualitas dan kuantitas public trasnportation harus ditingkatkan. kalimat ini sangat normatif. namun, begitulah kaidah teoretis yang bisa diajukan salah satunya.
      kalau mengacu public transport di negara maju, seperti bus kota di australia dan belanda, moda transportasinya sangat nyaman, tiketing yang efisien (penumpang hanya perlu bayar sekali jika dia melakukan perjalanan pergi-pulang dalam waktu kurang dari satu jam), harga parkir kendaraan pribadi yang mahal, harga kendaraan prbadi yang mahal dan sebagainya. kalau bisa tercapai kondisi tersebut, saya kira masyarakat tidak perlu dipaksa untuk beralih ke public transportation. mereka akan secara sukarela migrate ke public transportation.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 360 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: