Pendodos Sawit

Ini kali kedua saya melihat “tim” pendodos sawit di lahan milik Univesitas Asahan tempat saya bertugas sebagai detaser pada 2011. Tim ini terdiri atas lima orang. Saya tidak tahu pembagian kerja diantara mereka. Tetapi kalau saya lihat dari posisi duduk sebelum memulai bekerja, dua orang adalah “bos” karena mereka duduk di kursi dan tiga lainnya adalah “teknisi” karena mereka duduk di tanah (tanpa kursi). Dari gaya bahasa pun, dua orang “bos” memang agak beda. Tim inilah yang pernah saya lihat mendodos buah sawit di tempat yang sama sekitar tiga minggu yang lalu.

Para teknisi mulai mempersiapkan peralatan. Saya lihat ada dua galah alat pendodos yang masing sepanjang kira-kira 7-8 meteran. Galah ini terbuat dari dua pipa besi 4 dim berukuran 4 meteran yang disambungkan dengan ikatan karet bekas ban dalam. Di ujung galah terpasang sabit jumbo untuk mendodos sawit. Sabit ini diasah sebelum dipakai. Selain galah, peralatan lain yang dipakai adalah kapak dan gerobak satu roda. Setelah semua siap, tim ini bergerak ke pohon-pohon sawit yang sudah berbuah dan layak panen. Mereka mendodos tandon buah dengan menggunakan galah bersabit itu dan menarik galah itu beberapa kali hingga setandon buah sawit (biasa disebut tandon buah segar) jatuh.

Hingga tengah hari mereka bekerja. Kira-kira mereka satu tim mampu mendodos sekitar 3 ton sawit dari areal di sekitar kampus ini. Mereka mengumpulkan buah sawit ini disuatu tempat. Sambil menunggu truk pengangkut sawit datang, para pekerja ini beristirahat sambil rebahan di kebun dibawah pohon sawit. Tugas mereka akan berakhir ketika tandon buah sawit sudah diangkut oleh truk milik pengepul (pabrik).

Upah yang mereka dapatkan sekitar Rp 125 per kg. Jika mereka mampu memanen 3 ton berarti mereka bisa mendapatkan Rp 375.000 per tim per hari. Nah, kalau misalnya dibagi rata, setiap orang mendapatkan sekitar Rp 75.000 per orang. Saya tidak tahu persis apakah mereka bekerja setiap hari di kebun yang berbeda. Setidaknya, mereka akan kembali mendodos ke tempat yang sama tiga minggu kemudian.

Disamping pendapatan resmi, para pendodos bisa memperoleh pendapatan sampingan dari aktivitas mendodos sawit. Pendapatan sampingan pertama adalah mengumpulkan buah sawit yang tercecer ketika tandan buah sawit dijatuhkan dari pohonnya. Buah sawit dalam bentuk protolan biji ini dikumpulkan dan bisa dijual dengan harga Rp 1.200 per kilo (sementara harga tandon buah segar Rp 1.700 per kg sekarang ini). Pendapatan sampingan kedua adalah mengumpulkan lidi dari daun pohon sawit. Lidi ini dikumpulkan menjadi satu ikatan dengan harga sekitar Rp 1.200 sampai Rp 1.500 per kilogram.

About these ads

11 responses to this post.

  1. Posted by Bahmidan Panjait on Juni 2, 2011 at 4:43 pm

    tapi yang punya sawit di Asahan ini kaum kapitalis, sedangkan rakyat asahan hanya kebagian sebagai buruh kapitalis, Rakyat hanya seagai penonton. sudah seharusnya negara memikirkan agar setiap WNI memiliki minimal 2 HA/KK, agar lebel Indonesia sebagai negara agraris benar-benar terujud, bukan hanyaa isapan jempol saja.

    Balas

  2. Posted by Bahmidan Panjait on Juni 2, 2011 at 4:45 pm

    Lali Pak, matur Nuwun

    Balas

  3. Pak..
    blog nya koq belum di-update, nih..?
    sibuk ya Pak..?

    Balas

  4. hmm…
    tentang tips-tips melanjutkan studi di luar negeri dg beasiswa dobel2, Pak…hehe…
    (ini sih ‘curcol’ sy namanya alias curhat colongan) ^^
    just kidding, Pak…

    Kalau tentang Danau Toba gimana, Pak?

    tks

    Balas

    • beasiswa luar negeri bisa dari negara donor (seperti amerika atau australia misalnya) atau dari program pemerintah (seperti yang saya dapatkan). dikti punya program beasiswa luar negeri s3. mungkin bisa dibrowse di web dikti. kalau dapat dobel beasiswa kayaknya gak gampang. saya tidak pernah mengalami itu. tapi, kalau sekolah dan bekerja part time bisa dan uang beasiswa bisa ditabung.

      danau toba? ya saya pingin bikin postingnya. sayangnya, kamera saya ngadat (kalau dipake foto outdoor kabur). pinginnya, jadi citizen journalist yang bercerita berdasarkan gambar.

      Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 363 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: