Penelitian Kualitatif Untuk Mahasiswa S1

Mainstream metode penelitian kualitatif saat ini menjadi pendekatan alternatif yang populer digunakan saat ini, termasuk oleh mahasiswa program sarjana. Setidaknya, saya sudah dua kali menguji (bukan membimbing) karya tulis atau tugas akhir mahasiswa di jurusan saya yang menggunakan pendekatan kualitatif. Kesimpulan sementara saya, terjadi downgrading cara pengambilan kesimpulan dalam penelitian kualitatif. Saya menangkap kesan bahwa penelitian kualitatif itu simple dan tidak berbelit-belit sehingga dengan sekali wawancara dengan informan pun kesimpulan sudah bisa diambil. Nah, kalau ini benar terjadi, mahasiswa sebagai seorang peneliti tidak mendapatkan pelajaran atau pengalaman meneliti secara lebih baik.

 Menurut pandangan pribadi saya, penggunaan penelitian pendekatan kualitatif ini belum sesuai untuk mahasiswa S1 pada saat ini. Alasan fundamentalnya adalah karena mahasiswa tidak mempunyai amunisi yang cukup untuk mengeskplorasi informan penelitiannya. Mahasiswa tidak mempunyai ketrampilan untuk mendapatkan informasi yang mendalam dan penting berkaitan dengan pendapat atau tanggapan dari para informan. Sederhananya, apa saja yang disampaikan oleh informan pertama kali merupakan responsi final yang bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan. Si mahasiswa tidak mampu berkreasi lebih jauh untuk menanyakan lebih mendalam kepada si informan atas apa yang telah disampaikannya. Dan, karena keterbatasan ini hasil eksplorasi dari informan menjadi sangat dangkal.

 Apakah berarti penelitian kualitatif tidak sesuai untuk mahasiswa S1? Jawabannya bisa ya dan bisa tidak. Kalau tidak ada upaya untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa dalam penelitian kualitatif dan mahasiswa tidak meningkatkan “amunisi” keilmuannya berkaitan dengan topik yang akan ditelitinya, jawaban yang pertama benar. Namun sebaliknya, jika upaya-upaya tadi berhasil dilakukan, jawaban yang kedua benar. Intinya, kesesuaiannya sangat relatif (bersifat kondisional) dan tidak berlaku absolut.

 

Apa yang harus dilakukan agar mahasiswa S1 bisa mengimplementasikan penelitian kualitatif? Mahasiswa harus memastikan diri bahwa dia menguasai tema dan fokus penelitiannya. Dengan cara ini, mahasiswa tidak mudah dihanyutkan oleh opini/responsi/informasi dari informan. Mahasiswa bisa menggunakan rasa keingintahuannya untuk mendapatkan opini/responsi/informasi yang relevan dari informan. Berikutnya, pembimbing memberikan arahan mengenai apa yang diperoleh mahasiswa. Pembimbing akan perlu ikut terlibat untuk menentukan apakah opini/responsi/informasi dari informan yang diperoleh oleh mahasiswa perlu dipertajam lagi melalui in-depth-interview. Dan yang lebih penting lagi, silabus matakuliah metodologi penelitian harus diarahkan untuk memberikan pendalaman pemahaman mengenai penelitian kualitatif.

 Saya sering menggillustrasikan kepada mahasiswa, bukan untuk discourage mahasiswa, bahwa aplikasi penelitian pendekatan kualitatif itu tidak lebih mudah daripada penelitian pendekatan kuantitatif. Saya cenderung mengatakan bahwa penelitian kuantitatif bisa jadi relatif lebih mudah karena dengan sekali run ambil data sebagian besar data yang dibutuhkan bisa terpenuhi. Sebaliknya, pengumpulan data pada penelitian kualitatif tidak bisa sesingkat itu. Bisa jadi, peneliti harus melakukan penggalian informasi kepada informan secara berkali-kali sampai peneliti bisa menyimpulkan. Saya ingin mengesankan bahwa penelitian pendekatan kualitatif mempunyai proses baku yang semua komponen prosesnya harus dilalui. Penelitian kualitatif tidak sekedar merangkaikan opini/responsi/informasi dari informan. Kalau tatarannya seperti itu, hasil penelitian kualitatif mahasiswa S1 menjadi sangat bagus.

Inflation Trap

Beberapa waktu lalu, penetapan Upah Minumum Regional (UMR) ramai dibicarakan. Tarik menarik antara para pekerja dan para pelaku bisnis terjadi dalam penetapan UMR tersebut. Para pekerja menuntut kenaikan UMR sedangkan para pelaku bisnis malah cenderung sebaliknya. keduanya bertindak rasional dari perspektif dan kepentingan masing-masing. Tuntutan biaya hidup, sebagaimana diindikasikan oleh Kebutuhan Hidup Layak (KHL), menyebabkan para pekerja menuntut kenaikan UMR. Dalih kemampuan perusahaan, para pelaku bisnis tidak secara mudah memenuhi keinginan para pekerja.

Lanjutkan membaca

Memindahkan PKL Wilayah Kampus

Baru-baru ini, salah satu fenomena menarik secara sosial adalah relokasi pedagang kaki lima di wilayah sekitar Pasar Tanjung, salah satu ikon penting Kabupaten Jember. Relokasi ini relatif lancar dan berlangsung lebih simpel daripada yang dibicarakan oleh berbagai pihak, terutama mereka yang pesimistis dengan relokasi itu. Saat ini, relokasi ini masih dapat dirasakan dampaknya. Jalan di sekeliling Pasar Tanjung sudah relatif lengang dan kembali seperti sekian puluh tahun yang lalu. Berlalulintas dan berkendara di wilayah itu sangat bisa dinikmati sekarang ini.

Lanjutkan membaca

Pembatasan BBM Bersubsidi

Minggu pertama Agustus 2014, pasca perayaan lebaran dan Iedul Fitri, dihangatkan oleh rencana digulirkannya pembatasan distribusi BBM bersubsidi. Pada 4 Agustus 2014, pembatasan distribusi solar diberlakukan. Solar bersubsidi akan dibatasi distribusinya, yakni antara jam 08.00-18.00. Pembatasan distribusi BBM Solar ini merupakan rangkaian dari tahap-tahap pengendalian distribusi BBM bersubsidi.

Pembatasan distribusi BBM bersubsidi ini cukup rasional. Per 31 Juli 2014, konsumsi solar bersubdisi sudah mencapai 60% dari kuota APBNP 2014 (9,12 juta kl dari 15,16 juta kl) dan konsumsi premium bersubsidi mencapai 58% dari kuota APBNP 2014 (17,08 juta kl dari 29,29 juta kl). Secara hitungan kalender, persentase serapan konsumsi BBM bersubsidi sampai dengan 31 Juli 2014 adalah 58,33%. Ini berarti konsumsi solar bersubsidi sudah melebihi “jatah” sedangkan konsumsi premium bersubsidi masih dalam batas wajar.

Secara konsep, pembatasan distibusi yang akan diberlakukan akan mampu mengendalikan konsumsi BBM, khususnya solar, bersubsidi. Pembatasan ini akan “memaksa” konsumsi BBM akan dialihkan ke BBM nonsubsidi. Dengan cara ini, kuota BBM bersubsidi tidak akan terlewati.

 

Apakah konsep ini akan berhasil mencapai tujuannya? Bisa ya, bisa tidak. Apa yang dilakukan saat ini adalah pembatasan pasokan saja. Apa yang dilakukan saat ini tidak menyentuh secara langsung sisi permintaan BBM. Kalau semua konsumen menyadari pentingnya pembatasan ini, kebijakan ini akan berhasil mencapai tujuannya. Namun, kalau kebijakan ini disiasati oleh konsumen, hasilnya akan lain. Konsumen masih mempunyai celah untuk memanfaatkan window time yang cukup lebar untuk mengonsumsi BBM bersubsidi, yakni 8 jam sehari. Konsumen akan mengalihkan waktu konsumsinya pada window time tersebut. Jika konsumen berperilaku demikian, kemungkinan terburuknya adalah terjadinya antrian pada SPBU. Pada gilirannya, antrian bukanlah masalah yang serius bagi konsumen dibandingkan dengan selisih antara harga BBM bersubsidi dan harga BBM nonsubsidi. Pada gilirannya, kendaraan pribadi akan mengisi BBM di SPBU di dalam kota sedangkan kendaraan distribusi barang dan penumpang, seperti truk dan bus, akan mengisi BBM di SPBU sepanjang jalur antarkota. Nah, kalau yang terakhir ini terjadi, kebijakan pembatasan ini tidak akan mencapai tujuannya.

Daftar Pertanyaan (Kuesioner)

Pernah suatu kali saya ditanya oleh mahasiswa yang akan menyusun tugas akhir tentang apakah ada panduan atau pedoman menyusun kuesioner. Saya surprise dengan pertanyaan ini karena sejauh ini saya belum pernah membaca panduan atau pedoman itu. Sepertinya, membuat kuesioner adalah learning by doing, otodidak. (Nah, pembaca bisa menginformasikan melalui space komentar di bawah ini jika ada buku atau panduan untuk menyusun kuesioner).

Menurut saya, setidaknya ada tiga hal yang bisa dijadikan acuan untuk menyusun kuesioner. Pertama, si peneliti (mahasiswa) harus tahu apa yang dibutuhkan (dalam hal ini data dan/atau informasi) untuk menyusun laporan penelitian. Secara umum data dan/atau informasi yang dibutuhkan meliputi data dan/atau informasi yang akan dianalisis dan yang akan digunakan untuk mendeskripsikan obyek atau responden penelitian. Identifikasi kebutuhan data dan/atau informasi adalah titik kritikal. Si peneliti (mahasiswa) harus secara cermat mengindentifikasi keduanya. Kedua, si peneliti (mahasiswa) menyusun pertanyaan-pertanyaan yang berorientasi pada kebutuhan data dan/atau informasi. Dalam menyusun pertanyaan, si peneliti (mahasiswa) dapat menggunakan pertanyaan tertutup dan/atau pertanyaan terbuka. Pada pertanyaan tertutup, si peneliti (mahasiswa) memberikan alternatif jawaban pada responden/informan. Alternatif jawaban yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan data dan/atau informasi. Pada pertanyaan terbuka, si peneliti (mahasiswa) tidak memberikan alternatif jawaban. Si peneliti (mahasiswa) mengharapkan responden/informan untuk me.mberikan jawaban secara luas. Ketiga, si peneliti (mahasiswa) perlu meninjau apakah pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun sudah sesuai dengan kebutuhan data dan/atau informasi. Si peneliti (mahasiswa) bisa menggunakan teknik review sendiri dan/atau melakukan try out kuesioner. Teknik yang pertama dilakukan dengan cara membaca ulang pertanyaan-pertanyaan, baik secara individual (oleh si peneliti sendiri) atau secara kolektif (oleh beberapa orang). Teknik yang kedua dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner kepada responden/informan terpilih. Setelah feed back tentang kesesuaian antara pertanyaan-pertanyaan dan kebutuhan data/informasi diperoleh, perbaikan atau penambahan pertanyaan perlu dilakukan.

Selanjutnya, si peneliti (mahasiswa) bisa memulai untuk menyusun kuesioner dengan anatomi yang standar. Ini akan saya sampaikan pada tulisan berikutnya. (tulisan ini juga bisa dibaca di hadiparamu.blog.unej.ac.id)

Tanda Pengenal Pegawai: Perspektif Ekonomi

Minggu ketiga Januari 2014 ini, para pegawai di lingkungan kampus saya melakukan pengambilan gambar tanda pengenal pegawai. Memang, keberadaan tanda pengenal pegawai yang disematkan sisi kanan baju PNS akan menjadi identitas yang penting bagi seorang pegawai saat dia mengabdi dan bekerja di tempat tugasnya. Secara umum, saya mengamati bahwa antusias para PNS dalam pembuatan tanda pengenal ini sangat besar. Bisa dikatakan semua pegawai memiliki kartu tanda pengenal saat ini.

Ada yang menarik dari sisi ekonomi dari pengadaan kartu tanda pengenal ini. Kartu ini di-bundling dengan ATM salah satu bank BUMN. Sampai level ini, sebenarnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan secara ekonomi. Setiap pegawai, terutama yang sudah melakukan aktivitas banking dengan bank BUMN tersebut, akan mendapatkan kemudahan dalam melakukan pembayaran dengan menggunakan ATM tersebut. Sebenarnya, kemudahan ini telah diperoleh sebelum ada program pembuatan kartu tanda pengenal ini mengingat saat ini gaji bulanan mayoritas pegawai telah ditransfer pada bank-bank yang ditunjuk.

Namun, bundling Kartu Tanda Pengenal dan ATM tidak sepenuhnya bisa diterima oleh pegawai. Pertama, bundling keduanya berisiko kehilangan ATM. Jika semua pegawai yang telah memilikinya mengenakan eblek kartu tanda pengenal tersebut selama menjalankan tugas di kantor, ATM lebih berisiko hilang karena ATM tersebut tidak tersimpan di tempat yang aman (dompet, misalnya). Tanpa sadar, Kartu Tanda Pengenal tersebut bisa ketlisut atau bahkan jatuh. Kedua, sebagian (besar) dari pegawai laki-laki yang sudah beristri mempunyai kebiasaan untuk menyerahkan ATMnya kepada istrinya. Setidaknya, ini yang saya dengar dalam perbincangan dengan beberapa pegawai selama menunggu giliran untuk difoto dan yang saya dengar dari penuturan customer service yang melayani saya untuk menggaktifasi beberapa fitur perbankan untuk saya. Tidak ada yang salah  dengan hal “serah-serahan” ATM ini (meskipun untuk orang perbankan, serah-serahan ATM ini tidak umum dilakukan). Saya melihatnya sebagai praktek budaya baik dalam berkeluarga (konon, di Jepang praktek budaya ini juga terjadi). Nah, karena Kartu Tanda Pengenal harus dibawa si pegawai selama bertugas di kantor, ATM tidak bisa “diserahkan” lagi. Hal ini bisa menjadi masalah. Terakhir, Kartu Tanda Pengenal ini diembel-embeli dengan nama bank yang menjadi issuer dari ATM ini. Ditilik dari sisi bank, pencantuman nama bank adalah hak bank yang bersangkutan. Tetapi, dilihat dari sisi penggunaan kartu, penyebutan nama ini menjadi kurang tepat (atau bahkan kurang nyaman). Tanpa disadari, ini merupakan advertisement gratis untuk bank.

Lalu, apa yang dilakukan oleh para pegawai itu? Berdasarkan pengamatan saya secara sepintas, banyak pegawai melakukan scanning halaman kartu tanda pengenalnya dan mencetak ulang diatas kertas foto. Hasilnya, kartu tanda pengenal “baru” telah diproduksi. Cara ini setidaknya efektif untuk menekan risiko hilang dan ATM bisa difungsikan seperti semula. Lebih kreatif lagi, kartu tersebut tidak saja discanning tetapi juga diedit. Nama bank issuer diganti dengan nama unit kerja tempat bekerja. Apakah tindakan ini menyalahi aturan atau menyalahi kesepakatan dengan pihak bank? Saya tidak tahu. Tetapi, saya kira ini adalah bentuk reaksi kreatif dari pegawai yang mungkin patut mendapatkan perhatian. Setidaknya, event ini memberikan pelajaran bahwa program ekonomi harus mempertimbangkan banyak hal, antara lain aspek kepraktisan, aspek perilaku pengguna (konsumen), dan aspek kemanfaatan.

2013 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 11,000 times in 2013. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 4 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 480 pengikut lainnya