Membayar Hutang Kepada Allah

Pengajian pagi ini, Rabu, 13 Oktober 2010, sangat penting berkaitan dengan tata cara kita membayar hutang kepada Allah SWT. Kuliahnya disampaikan oleh Kyai Kosasih dan muridnya, Ustadz Mansyur.

Hutang yang dimaksud ini adalah hutang shalat wajib atau puasa Ramadhan yang kita tinggalkan baik secara sengaja maupun tidak. Kapan terjadinya hutang tersebut diuraikan berdasarkan jenis kelamin si pelaku. Bagi seorang laki-laki, hutang shalat wajib bisa terjadi karena ketidaksengajaan (misalnya, bangun pagi kesiangan sehingga terlambat shalat shubuh) maupun yang sengaja (sengaja meninggalkan shalat karena lalai atau menjalani maksiat). Hutang puasa wajib bagi seorang laki-laki bisa terjadi karena dalam perjalanan (musafir) atau sakit. Terjadinya hutang-hutang ini untuk kaum laki-laki sangat jelas “perhitungannya”.

Bagi kaum perempuan, terjadinya hutang shalat wajib atau puasa ramadhan adalah hal yang siklikal atau terjadi berulang-ulang karena alasan haid (menstruasi). Untuk hutang shalat wajib, terjadinya adalah pada saat “mulai”dan “selesai” masa haid. Pada saat “mulai”, hutang shalat wajib bisa terjadi karena si perempuan tidak menyegerakan shalat ketika waktunya masuk dan dia menerima masa itu. Misalnya, si perempuan memulai siklus haidnya pada jam 13.00 (waktu dzuhur jam 11.30) dan belum melaksanakan shalat dhuhur (karena biasanya shalat pada jam 13.30, misalnya), maka ia sudah berhutang satu shalat wajib. Pada saat “selesai”, hutang shalat wajib bisa terjadi si perempuan tidak bersegera untuk bersuci (mandi) sehingga waktu shalat usai. Misalnya, si perempuan “selesai” haid pada jam 22.00 dan tidak bersegera untuk bersuci karena alasan cuaca dingin atau yang lainnya sehingga ia tidak shalat isya, maka ia berhutang satu shalat isya.

Hutang shalat wajib ini harus ditunaikan (“dibayarkan”) sejumlah shalat wajib yang ditinggal dengan cara yang kita kenal dengan istilah qadha. Ada satu contoh yang menarik untuk menjelaskan cara  dan frekuensi meng-qadha sebagai berikut. Si Fulan telah bertaubat karena dia telah meninggalkan shalat selama dua tahun. Untuk meng-qadha shalat yang ditinggalkannya ini, dia bisa “mengangsur” dengan cara melakukan shalat wajib qadha setiap selesai shalat wajib setiap waktu. Misalnya, setelah shalat dzuhur pada hari ini, ia shalat dzhuhur lagi untuk dengan niat men-qadha, dan seterusnya. Aktivitas ini harus terus ia lakukan hingga dua tahun lamanya atau sesuai dengan jumlah bilangan shalat wajib yang ditinggalkannya. Jika si Fulan ingin memperpendek “jangka waktu” qadha, maka ia harus melakukan shalat wajib qadha lebih banyak. Misalnya, kalau ia ingin memperpendek waktu pembayaran hutang menjadi setahun, maka ia harus melakukan shalat wajib qadha dua kali setelah shalat wajib tertentu pada hari ini.

Hutang puasa wajib atau ramadhan terjadinya cukup jelas. Artinya, siapa saja (baik laki-laki maupun perempuan) tidak berpuasa wajib maka ia harus meng-qadhanya pada bulan berikutnya. Periode qadha ini menjadi penting untuk diperhatikan. Untuk memudahkan penjelasannya, illustrasi berikut digunakan. Misalnya, si Fulan tidak berpuasa ramadhan selama seminggu pada tahun ini. Jika ia meng-qadha puasa yang ditinggalkannya pada bulan-bulan berikutnya hingga sebelum bulan ramadhan tahun berikutnya, maka jumlah hari puasa yang ia harus lakukan adalah sebanyak hari puasa yang ditinggalkannya. Jika ia meng-qadha puasa yang ditinggalkanya setelah bulan ramadhan (tahun) berikutnya, maka ia harus berpuasa sebanyak hari puasa yang ditinggalkannya ditambah dengan membayarkan fidyah (sangsi, denda) berupa pemberian makanan (dengan kualitas yang sama dengan yang ia makan setiap hari) kepada fakir miskin sebanyah jumlah hari puasa yang ditinggalkannya (satu hari satu piring makanan sebagai denda/fidyah). Jika ia meng-qadha puasanya setelah dua bulan ramadhan (tahun) berikutnya, maka kewajiban menjadi berpuasa sebanyak hari puasa yang ditinggalkannya ditambah dengan membayarkan dua fidyah, dan seterusnya.

Ini sekelumit yang saya cerna dan ingin saya memorikan dalam benak dan pemahaman saya. Saya perlu menulikan ini karena kalimat bijak menyatakan bahwa “ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Saya mohon diberikan koreksi jika ada yang salah dalam tulisan ini. Semoga bermanfaat.

8 responses to this post.

  1. Posted by halimah as sa'diyah on Februari 24, 2011 at 6:41 am

    apakah sholat qhada sama dengan sholat jama’ tad ?????

    Balas

    • wah…saya ndak bisa njawab. yang saya tulis itu apa yang disampaikan oleh gurunya ustadz mansyur. kurang-lebihnya begitu. kalau seorang sadar bahwa setahun lalu penuh dia tidak shalat, maka orang itu dapat membayarnya dengan cara shalat dua kali untuk setiap waktu shalat pada tahun ini…

      Balas

  2. Posted by mila on Oktober 30, 2011 at 8:42 pm

    sesuai dengan kasus yang terjadi di atas,,,seorang wanita yang telah baertaaubat,
    jika ia umur 80an baru taubat,,bagaimankah caranya menggantinya?dan apakah boleh anaknya membantu mengganti sholat tersbut?
    tolong jawaban nya di paparkan dalam kitab apa?

    Balas

    • saya tidak tahu persisi kitab apa. tapi yang saya tuliskan itu adalah pengajian di salah satu televisi swasta hampir setahun lalu. kalau untuk shalat, saya tidak pernah dengar. tetapi kalau untuk umrah dan haji, kita anaknya boleh menggantikannya dengan syarat kita sudah berumrah atau berhaji. terima kasih sudah berkomentar pada blog saya.

      Balas

  3. lebih bijak jikalau ada dalilnya baik dari quran,sunnah,atau pemahaman ulama melalui ijtihad pak….jadi tidak ada samar2….Barakallahu fikum….:)

    Balas

  4. Posted by tengku on Desember 10, 2013 at 11:35 am

    Assalamualaikum!
    Bgaimana cara melaksanakan shalat qadha it??

    Balas

    • menurut yang saya baca, shalat qadha bisa dilakukan dengan cara berikut. Misalnya, kalau berhutang shalat isya kemarin, maka setelah selesai shalat isya hari ini berdiri lagi untuk shalat isya lagi dengan niat qadha…(mudah-2an tidak salah saya).

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: