Sedekah Produktif: Tidak Sekedar 2,5%

Pagi tadi, 2 November 2010 jam 05.00-07.00 wib, ustadz Yusuf Mansyur menyampaikan ilmunya lagi. Kali ini yang berkesan di benak dan hati adalah sedekah produktif. Konsep sedekah produktif ini melebihi sedekah yang biasa. Dalam sedekah biasa, kita menyisihkan 2,5% dari pendapatan atau rejeki yang kita peroleh. Sedekah produktif ini tidak sekedar (melebihi) 2,5% tetapi mensedekahkan satu blok terbesar dari sumber pendapatan (rejeki). Dalam kuliah pagi ini, seorang ibu di Kapuas Kalimantan dijadikan contoh sedekah produktif. Beliau ini mensedekahkan hotelnya untuk kepentingan dan kesejahteraan anak yatim. Hotelnya tetap beroperasi secara komersial seperti layaknya hotel lainnya. Tetapi seluruh pendapatan hotel tersebut disedekahkan. Menariknya lagi, beliau ini merencanakan dan melaksanakan sedekah ini dengan persetujuan keluarga. Bayangkan, pendapatan hotel itu bukan 2,5% dari pendapatan beliau, tetapi lebih. Si Ibu ini memutuskan untuk berjualan nasi saja (yang notabene adalah bisnis pertama beliau dan almarhum suami).

Sedekah produktif barangkali harus kita jadikan sebagai metode untuk mendapatkan ridha Allah SWT.  Sesuai dengan istilah atau namanya, sedekah ini terus bekerja sepanjang masa. Kembali ke contoh diatas, selama hotel masih beroperasi sedekah akan berjalan terus. Kalau kita telaah lebih dalam sedekah produktif semacam ini tidak saja dalam bentuk finansial melainkan juga mensedekahkan segala daya upaya dan sumber daya yang ada dalam hotel tersebut, termasuk para karyawan hotel, kepada Allah SWT.

Sebagai suatu metode, sedekah produktif harus direplikasi apa pun bidang kerja kita. Sedekah produktif tidaklah monopoli para pengusaha. Maksudnya, sedekah produktif tidak hanya bisa dilakukan oleh mereka yang punya bisnis, tapi juga oleh karyawan, baik sebagai pegawai negeri maupun pegawai  swasta. Sebagai karyawan, kita bisa meniatkan untuk membelanjakan semua honor kerja lembur kita di jalan Allah SWT. Insya Allah, kita sudah menjalankan sedekah produktif.

Metode ini wajib kita adopsi sebagai cara untuk mencapai kesejahteraan di dunia dan akherat. Perniagaan dengan Allah SWT tidak pernah merugikan.

3 responses to this post.

  1. Posted by Gofur on Maret 26, 2012 at 7:48 pm

    sedekah memang pertama berat dan perlu dipaksa, tapi lama – lama menjadi kebiasaan bahkan jadi kewajiban. Orang kaya tidak dilihad dari hartanya tapi dari banyaknya mereka memberi kepada seseama.

    Balas

    • ibarat berolah raga, sedekah itu perlu latihan. mulai dari yang sedikit, tambahi lagi, tambahi lagi. salah satu motivasi terkuat adalah mempercayai (iman) bahwa sedekah tidak mengurangi nilai kekayaan, tapi malah sebaliknya. logika dalam ilmu sedekah adalah memberi sama dengan menerima.

      Balas

  2. Posted by sunarko on Maret 29, 2013 at 6:42 pm

    Alhamdulillah. selanjutnya mari usaha bersa h Yusuf mansyur di bisnis pulsa murah bernilai sedekah melalui http://www.esyariah.com/?id=narko . t ksh atas infonya smg kita selalu sukses. amin. ass. wr.wb

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: