Inspirasi: Memancing Berhadiah

Sepintas frase tersebut agak aneh. Dalam sejarahnya, tidak ada orang yang mau memberikan hadiah kepada orang-orang yang memancing ikan di kolam, sungai, atau laut. Memancing lebih merupakan suatu hobi yang bersifat sukarela, tidak ada yang memaksa, tidak ada menyuruh. Tapi, memancing yang satu ini berbeda. Siapa saja yang selesai memancing, berapapun hasil tangkapannya, berapa lama pun ia memancing, akan mendapatkan bonus hadiah. Kegiatan memancing ini telah dipoleh menjadi suatu aktivitas bisnis yang meramaikan dan memanfaatkan hiruk pikuk manusia yang berkumpul di tengah-tengah kota, Alun-Alun Kabupaten Jember.

Sepintas, bisnis kolam pancing dikeramaian ini tidak unik. Si pemilik hanya menyediakan kolam plastik buatan yang dipompa udara sehingga membentuk suatu lingkaran kolam yang berdiameter kira-kira satu meter. Ia lalu mengisi kolam itu dengan air yang kurang dari setengah volume kolam. Sejumlah boneka plastik berbentuk ikan, dengan berbagai ukuran, dan binatang air lainnya dituang dan mengapung dalam kolam memenuhi permukaan air kolam. Di ujung mulut boneka-boneka plastik tertempel magnet kecil. Di sisi kolam, kira-kira 12 pasang kursi plastik kecil, timba plastik kecil tempat menampung hasil pancingan, dan alat pancing plastik berjajar melingkar. Anak-anak kecil, seusia balita atau kelas 2 sekolah dasar, adalah target konsumen dari bisnis ini. Anak-anak ini duduk di kursi plastik dan mengayunkan benang pancing yang ujungnya terpasang magnet ke dalam kolam. Secara pelan-pelan, mereka akan menggeser alat pancingnya kesana kemari hingga magnet pada alat pancing menyentuh dan menempel pada magnet pada mulut boneka-boneka plastik dalam kolam itu. Begitu mereka berhasil menggaet satu boneka, mereka akan mengangkat alat pancing untuk memungut hasil pancingan dan meletakkannya ke dalam timba plastik kecil. Mereka akan terus mengulangi kegiatan ini sampai timba plastik penuh dengan hasil pancing. Jika mereka belum bosan, mereka akan menuang hasil pancing ke kolam dan mereka akan memancing lagi. Si pemilik tidak melarang anak-anak tersebut melakukan hal tersebut. Si pemilik memang memfasilitasi mereka untuk memancing sepuasnya, secapeknya. Sekali memancing sepuasnya dan secapeknya, Si pemilik menetapkan tarif Rp 2.000. Sampai disini, keunikan bisnis belum kelihatan.

Pemilik bisnis ini, kemudian, memberika penawaran yang menggiurkan untuk para konsumennya. Pemilik tidak saja memfasilitasi mereka untuk memancing sepuasnya dan secapeknya saja tetapi juga memberikan hadiah langsung mulai dari poster alphabet hingga buku mewarnai, mulai dari mainan motor-motoran plastik hingga gelembung sabun. Para pelanggan boleh memilih sesuka hati. Di sini, keunikan dan kreativitas dalam menjual mulai tampak. Pemilik bisnis ini memberikan inspirasi bagaimana sinergi menjual jasa dan barang hadiah bisa disatupadukan untuk mendapatkan omset yang lebih banyak.

Keunikan dalam sinergi ini bisa diamati dari beberapa aspek. Pertama, sinergi ini seolah-olah mengorbankan salah satu bisnis. Secara sepintas, bisnis yang dikorbankan adalah bisnis penjualan barang. Tetapi kalau ditelaah lebih jauh, bisnis yang dikorbankan adalah bisnis kolam pancingnya. Mengapa demikian ? Bisnis kolam pancing ini mempunyai operating cost yang nihil. Investasi yang dibutuhkan dalam kolam pancing ini murah dan bisa diasumsikan berumur ekonomis lama. Akibatnya, beban penyusutan terhadap investasi ini sangat rendah sehingga fixed operating costnya rendah.

Bisa dikatakan, tarif pancing Rp 2.000 ini merupakan net income dari bisnis ini. Kalau saja jasa pancing ini dianggap free, bisnis pancing bisa dianggap sebagai pemancing konsumen untuk mau membeli produk dagangan yang ada. Tentunya, agar arrangement ini tidak merugikan, barang yang ditawarkan sebagai hadiah adalah barang yang berharga pokok kurang dari Rp 2.000. Dengan demikian, keuntungan dari sinergi ini bisa diraup oleh penjualan barang dagangan.

Seandainya, kedua bisnis tersebut tidak disinergikan, masing-masing bisnis akan merugi atau sepi. Seandainya, kolam pancing dioperasikan secara terpisah, mungkin konsumen sekarang tidak akan tertarik karena mereka tidak mendapatkan kompensasi apa-apa, kecuali kenikmatan memancing. Kalau penjualan barang dagangan dipisahkan dari kolam pancing, omsetnya akan lebih kecil karena biasanya orang tua konsumen enggan membelanjakan uang hanya untuk barang mainan. Penggabungan kedua bisnis ini mendorong secara psikologis orang tua untuk tidak berkeberatan membelanjakan Rp 2.000. Kalau saja mainan yang dijadikan hadiah tidak bernilai lebih, Rp 2.000 akan bernilai lebih karena memancing itu melatih kesabaran, ketekunan, konsentrasi, ketenangan, dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: