Inspirasi: Retail Tradisional versus Retail Modern

Belakangan, kekuatiran tergusurnya pasar tradisional oleh praktek retail modern menguat. Retail tradisional diidentikkan dengan retail milik rakyat yang mendorong potensi ekonomi rakyat. Retail modern diyakini sebagai praktek bisnis yang dibangun oleh kekuatan kapital. Kedua retail ini memiliki konsepsi praktek bisnis yang berbeda. Dan sebagian pihak berpendapat bahwa pemisahan playing ground untuk keduanya diperlukan agar ritel modern tidak mencaplok begitu saja ritel tradisional.

Terlepas dari isu penggusuran tersebut, coba kita cari tahu mengapa ritel modern ini menggurita dan, yang lebih penting lagi, mendapatkan tempat di hati konsumen. Karena praktek bisnis di ritel tradisonal sangat heterogen, coba kita menggiring keingintahuan kita berdasarkan pengamatan pada ritel modern.

Berikut ini, sepuluh poin yang mungkin menjadi jawaban dari keingintahuan kita.

1. Dukungan jejaring distribusi

Ritel modern didukung oleh jejaring distribusi yang handal. Secara periodik, truk distribusi mensupplai sebuah toko ritel sehingga stok barang di toko selalu siap. Bukan itu saja, jejaring distribusi ini memungkinkan terjadinya rantai pasok (supply chain) yang handal dan bisa menekan biaya distribusi dan biaya pengadaan barang. Ritel tradisional tidak memiliki jejaring distribusi sebagus ini.

2. Dukungan teknologi dan sistem informasi

Bisa dipastikan, setiap ritel modern didukung oleh teknologi dan sistem informasi yang modern. Pemanfaatan teknologi bisa diamati di kasir. Dengan desain sistem informasi yang baik, ritel modern bisa secara lebih cepat melakukan layanan bayar sehingga waktu tunggu dan antrian dapat dipersingkat. Si Kasir tinggal menembakkan scanner pada bar code yang terdapat dalam kemasan produk, harga produk akan terdisplay di monitor komputer, dan total pembayaran bisa langsung di cetak. Lebih lanjut, sistem yang dioperasikan oleh kasir terintegrasi dengan sistem persediaan di gudang sehingga posisi terakhir persediaan bisa langsung secara real time termonitor. Bisnis retail tradisional belum mengadopsi sistem yang berbasis kemajuan teknologi ini.

3. Layout yang lebih menarik

Layout barang dagangan di retail modern diatur secara lebih menarik. Barang dagang diletakkan pada rak-rak yang terkategorisasi dan eye catching. Layout ini bisa memanjakan konsumen dalam berbelanja. Pada tingkat tertentu, layout ini dapat memunculkan keputusan belanja spontan (tak terencana) karena konsumen tertarik display barang dalam rak.

4. Suasana yang nyaman

Ritel modern menawarkan suasana belanja yang nyaman. Ritel modern mementingkan kebersihan ruangan, penerangan yang sangat cukup, fasilitas air conditioning, dan alunan musik. Tentunya, investasi yang tidak sedikit harus ditanamkan untuk menghadirkan suasana nyaman ini. Namun, penciptaan suasana nyaman ini akan mendorong konsumen untuk stay lebih dan berbelanja dengan tenang. Selain itu, suasana nyaman ini dapat membentuk brand image di benak konsumen sehingga mereka akan selalu memilih ritel modern untuk berbelanja.

5. Luas ruang yang memadai

Ruang display di ritel modern memiliki luas ruang yang memadai. Barang yang dipajang adalah barang yang memenuhi rak saja. Selebihnya, stok barang disimpan di gudang yang tersembunyi. Ritel tradisional tidak memisahkan ruang pajang dengan gudang. Akibatnya, barang terkesan berumpuk-tumpuk dan menyempitkan ruang belanja yang sebenarnya cukup luas.

6. Harga Murah

Luasnya jejaring distribusi dan skala usaha yang besar memungkinkan ritel modern bekerja pada tingkat efisiensi yang tinggi. Alhasil, ritel modern mampu menawarkan harga yang murah. Tidak sedikit dari kalangan ritel modern menggunakan harga murah sebagai jaminan. Ritel modern berani bertaruh bahwa harga dagangannya tidak lebih mahal dari harga ritel lainnya.

7. Layanan penjaga outlet yang ramah

Setiap konsumen yang masuk dalam ritel modern seringkali disambut oleh salam khas oleh para penjaga outlet. Tidak peduli apakah salamnya dijawab atau tidak, begitu konsumen membuka pintu toko, penjaga otomatis mengucapkan salam itu. Selama konsumen di dalam ruangan toko, mereka siap siaga memberikan pelayanan, mulai dari menunjukkan rak di mana barang yang dicari berada sampai dengan mengambilkan barang belanjaan. Di akhir sesi, mereka mengucapkan salam lagi dan sembari mengingatkan untuk kembali berbelanja di lain waktu. Disadari atau tidak, keramahan ini merupakan wujud dari careness terhadap konsumen.

8. Lokasi yang strategis

Ritel modern dimanapun berdiri di lokasi yang strategis, dekat dengan keramaian, dan memiliki space parkir kendaraan bermotor yang cukup. Setiap orang akan setuju kalau dinyatakan bahwa lokasi yang strategis adalah salah satu pendorong atau pemicu keunggulan bersaing. Pemilihan lokasi yang strategis ini menunjukkan bahwa retail modern tidak saja menjadikan masyarakat sekitar  sebagai konsumen sasaran tetapi juga mereka yang berlalu-lintas di keramaian.

9. Promosi yang massal

Ritel modern yang berjaringan secara nasional mampu menyelenggarakan promosi yang bersifat massal. Secara kolektif, ritel modern bisa mempromosikan diri secara kolektif untuk menumbuhkan minat belanja konsumen. Kegiatan promosi ini mulai dari iklan di televisi, lomba mewarnai, hadiah undian, sampai dengan souvenir belanja. Pengelolaan promosi yang teintegrasi semacam ini semakin memperkokoh branding dari retail modern pada benak konsumen dan masyarakat.

10. Marketing awareness

Tidak bisa dipungkiri bahwa retail modern sangat marketing aware. Pengelolaan ritel modern sangat memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan konsumen sasaran mereka. Mereka benar-benar melakukan positioning yang tepat. Kaidah marketing management lainnya, terutama marketing mix (product, price, place, promotion) sangat mudah teramati dalam perputaran roda bisnis ritel modern. Singkatnya, ritel modern memang menjalankan bisnis secara modern dan tidak konvensional.

4 responses to this post.

  1. satu lg pak, waralaba yg ini, dia adalah konglomerasi, menguasai hulu s/d hilir. Dia kuasai jalur distribusi sekaligus pabrikan. Jadi, ia adalah retail corp, sekaligus distributtion corp. Sama seperti usaha percetakan yang punya toko kertas dan peralatan mesin, dia akan sangat competitif.

    Balas

  2. satu lg pak, kami sedang mempersiapkan perda tentang waralaba, sementara di bapekab Jember ada dana untuk kajian akademik, sekedar info, barangkali bapak bisa melakukan pendekatan sama pak mudhar untuk minta proyeknya, trimakasih

    Balas

    • sip, nama lainnya adalah integrasi vertikal….alias konglomerasi. nanti kita diskusikan di kelas. pada slide operations strategy ada poin tentang integrasi vertikal.

      Balas

    • ha…ha…saya pernah satu kantor dengan pak mudhar di pasca sarjana unej. memang lama tidak berkomunikasi dengan beliaunya. mungkin boleh minta ya….tapi share saja dengan bapak lewat email lebih enak, nggak usah terlibat langsung dalam pembuatan perda itu.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: