Benarkah Harga BBM di Indonesia Paling Murah ?

Halaman Ekonomi Bisnis, Jawa Pos, 14 Februari 2011, memuat perbandingan harga BBM RI dengan beberapa negara di kawasan ASEAN. Alhasil, harga BBM di negara ini tergolong paling murah, baik untuk jenis gasoline maupun diesel. Perbandingan harga BBM ini dilakukan dengan cara mengkonversikan harga BBM di masing-masing negara ini menjadi satuan Rupiah. Tidak disebutkan secara jelas dalam koran tersebut, bagaimana perhitungan konversi itu dilakukan. Namun, setidaknya kita bisa menebak caranya: mengalikan harga BBM di masing-masing negara dengan nilai kurs mata uang negara tersebut dengan Rupiah.

Dari sisi unit pengukuran, metode ini adalah cara yang wajar.  Perbandingan yang dilakukan dengan terlebih dahulu menyamakan unit pengukuran, dalam hal ini Rupiah, adalah cukup fair dan illusratif. Angka hasil konversi itu akan secara mudah menggambarkan posisi harga-harga BBM di negara-negara kawasan ASEAN.

Apakah metode konversi harga ini sesuai ? Tentunya, kita boleh saja menilai bahwa metode konversi tersebut debatable. Alasan utama untuk mendebatnya adalah cara konversi ini bukan permasalahan matematika saja, melainkan kental dengan dimensi dan permasalahan ekonomi. Mari kita simak komponen atau variabel dalam metode konversi tersebut.

Ada dua komponen atau variabel yang digunakan dalam konversi tersebut, yaitu harga BBM negara lain dan nilai kurs mata uang. Variabel yang pertama sepenuhnya merupakan otoritas atau hak prerogatif dari masing-masing negara. Terserah dari masing-masing negara apakah akan memberikan subsidi pada harga BBM atau tidak. Karena karakter variabel seperti ini, komponen ini praktis tidak bisa “diutak-atik” dalam formula konversi.

Variabel kedua merupakan variabel yang dinamis. Dinamika nilai kurs dapat diamati dari sisi mekanisme pasar uang dan sisi kinerja ekonomi suatu negara. Mekanisme pasar uang mengatakan bahwa kurs mata uang adalah produk interaksi antara demand dan supply dari uang asing. Pergerakan pada demand dan/atau supply mata uang asing akan mendorong terjadinya appresiasi atau depresiasi mata uang suatu negara. Nah, dari sisi ini kita bisa menduga sementara bahwa penggunaan variabel ini dalam metode konversi akan menyebabkan harga BBM negara lain yang dikonversikan ke Rupiah menjadi lebih tinggi atau lebih rendah. Jika Rupiah terapresiasi, harga BBM negara lain dalam Rupiah akan menjadi lebih rendah. Sebaliknya, jika Rupiah terdepresiasi, harga BBM negara lain dalam Rupiah akan menjadi lebih tinggi.

Dinamika kurs mata uang di sisi lain menunjukkan kinerja ekonomi suatu negara. Suatu negara yang kuat secara ekonomi yang diindikasikan oleh adanya surplus pada neraca pembayaran (balance of payment) akan mempunyai stok cadangan devisa yang cukup untuk mengintervensi pasar uang. Pada kondisi mata uang lokal terdepresiasi, intervensi dapat dilakukan dengan me-release cadangan devisi untuk menstabilkan kurs mata uang. Selain itu, surplus neraca pembayaran yang berarti negara yang memilikinya mengeskpor lebih banyak barang/jasa dan/atau mengimpor lebih banyak modal akan mendorong permintaan mata uang lokal. Akibat dari meningkatnya permintaan mata uang lokal adalah apresiasi dari mata uang lokal tersebut. Lagi, seperti telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya, harga BBM hasil konversi ini bisa menjadi lebih tinggi atau lebih rendah dari seharusnya.

Lalu, metode apa yang lebih sesuai ? Perbandingan seharusnya tidak melibatkan variabel yang merupakan produk dari interaksi ekonomi dua negara. Kurs dalam hal ini sebagai representasi dari interaksi ekonomi dua negara seharusnya tidak dilibatkan. Variabel yang digunakan untuk mendapatkan perbandingan yang lebih proporsional adalah variabel yang tidak terkait langsung dengan interaksi ekonomi suatu negara, misalnya per capita income. Dengan menggunakan variabel per capita income, perbandingan dilakukan dengan mencari rasio antara harga BBM pada suatu negara dan per capita income penduduk negara itu. Rasio ini akan menghasilkan suatu persentase yang mengindikasikan seberapa besar pangsa belanja BBM per capita income.

Rasio ini akan lebih fair karena negara dengan per capita income yang lebih tinggi mungkin akan memiliki harga BBM yang lebih mahal. Dan sebaliknya, negara dengan per capita income yang lebih rendah mungkin akan mempunyai harga BBM yang lebih murah. Jika suatu negara memiliki angka rasio yang lebih tinggi dari angka rasio di negara lain, negara tersebut bisa dikatakan mempunyai harga BBM yang lebih mahal. Sebaliknya, jika suatu negara mempunyai angka rasio yang lebih rendah, negara itu mempunyai harga lebih murah.

Nah, perlu kiranya menyikapi pertanyaaan seperti yang tertulis dalam judul tulisan ini secara argumentatif. Dengan metode yang lebih sesuai kita akan dapat menjawab pertanyaan tersebut secara lebih sesuai.

2 responses to this post.

  1. Posted by hoki on April 4, 2012 at 9:51 am

    premium oplosan pemerintah masak harus lebih mahal dari premium malaysia??
    namanya premium harusnya ron 95 seperti di malay , dasar penipu ! dipikir rakyat sekarang bodoh? woiii jaman internet gini ga bisa di kibulin lagi

    Balas

    • wah, saya tidak paham tentang kualitas premium. saya hanya mengemukakan bahwa perbandingan harga tidak bisa dilakukan secara begitu saja. tapi, harus mempertimbangkan nilai kurs juga. terima kasih sudah memberikan komentar karena itu jadi pengetahuan baru untuk saya.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: