Bisnis Makanan Tradisional: Bagaimana Bisa Survive ? (Jilid 1)

Sebuah Warung Nasi Gudeg yang cukup tua, berdiri sejak 1968, menggelitik saya untuk memperhatikan bagaimana bisnis ini bisa survive di era persaingan bisnis kuliner yang sengit. Saya memperhatikan tampak luar dari bisnis ini dan sepertinya tidak banyak teori dalam ilmu manajemen yang saya bisa saya temui. Saya setidaknya bisa memberikan inventarisasi poin-poin berikut ini sebagai anomali bisnis ini (terhadap teori yang berlaku):

a.       Bisnis tersebut tidak berada di lokasi strategis

Kalau menurut teori, pebisnis seharusnya memilih lokasi usaha yang strategis. Lokasi strategis ini biasanya diterjemahkan sebagai lokasi yang mudah dijangkau oleh konsumen atau lokasi yang dekat dengan keramaian. Tetapi warung ini terletak dilokasi yang “agak masuk” dan tidak didukung oleh lahan parkir kendaraan yang layak. Sepertinya, pemilik bisnis sama sekali tidak peduli dengan pemilihan lokasi strategis. Barangkali, pebisnis merasa bahwa rumah mereka sudah terletak di lokasi strategis.

b.      Layout dan desain tempat pengunjung makan sederhana

Warung nasi ini seolah tidak mau menginvestasikan dananya untuk mengembangkan layout dan desain tempat makan. Layoutnya dan desain tempat makan (sangat) sederhana. Meja panjang selebar 40-50 cm dipajang mengelilingi dinding yang ada di teras rumah. Kursi plastik tanpa sandaran diletakkan berjajar di dekat meja itu. Desain meja dan layout yang demikian ini seolah hanya ingin memaksimumkan jumlah pengunjung yang bisa dilayani. Menurut penilaian saya, pengunjung tidak akan bisa enjoy bercengkerama dengan pasangan atau teman yang kebetulan menemani. Apalagi, space tempat makan ini sangat sempit sehingga pengunjung harus rela berbagi tempat dengan pengunjung lainnya. Desain dan layout tempat makan semacam ini tidak banyak kita temui di warung atau restoran yang sudah bernuansa modern.

c.       Pelayanan yang jadul

Saya bisa mengatakan model pelayanan yang digunakan sangat jadul. Karena begitu sibuknya si pelayan (setidaknya itu yang saya amati pada jam sarapan, sekitar 07.30 pagi), terkadang pengunjung tidak segera “ditanyai” mau makan apa. Si pengunjung harus “proaktif” menyapa si pelayan untuk memberikan ordernya. Pengunjung pun tidak bisa melakukan order sekaligus. Alias, dia harus pesan makan sarapan pada pelayan si A dan minta disediakan minum pada pelayan si B (sepertinya, sudah ada pembagian pekerjaan untuk kedua pelayan ini).

Uniknya lagi, order tidak pernah dicatat oleh si pelayan. Pelayan hanya mengandalkan “memory” saja. Tak jarang, serombongan pengunjung yang pesanannya beragam meminta si pelayan untuk mengulang order yang telah disampaikannya. Seandainya si pelayan ini menggunakan catatan, seperti buku menu atau daftar pesanan yang ada di resto jaman sekarang, mungkin tugas dia agak ringan.

d.      Tidak ada promosi, malah jadi tempat promosi

Nah, ini anomali berikutnya. Warung ini tidak berpromosi. Papan nama pun terlihat mencolok. Di dalam ruang tempat makan, saya membaca “tidak membuka cabang” sebagai “promosi” kepada para pengunjung. Papan nama ini sepertinya menginformasikan bahwa warung ini tidak ada kaitannya dengan warung nasi gudeg serupa yang ada di kota ini.

Warung ini justru jadi tempat promosi bagi beberapa perusahaan. Banyak kalender berlabel perusahaan atau nama produk yang terpampang pada dinding-dinding ruangan. Tampaknya, ruangan ini cocok untuk promosi melalui kalender karena tidak sedikit pengunjung memperhatikan apa yang terpampang pada dinding ruangan tersebut.

e.      Sistem Pembayaran yang sederhana

Kesederhanaan juga tercermin dalam sistem pembayaran yang sederhana. Pengunjung yang telah selesai menikmati sarapannya akan dengan sukarela mengunjungi bilik kasir. Bilik ini bukan bilik khusus untuk kasir tetapi merupakan “dapur” dimana display berbagai makanan disajikan. Bilik ini juga melayani pesanan “take away”.

Untuk melakukan pembayaran, pengunjung harus memberikan “pengakuan” tentang apa saja yang sudah disantapnya. Sambil mendengarkan “pengakuan” ini, si kasir mengetikkan angka-angka harga pada sebuah kalkulator. Alhasil, si kasir akan menyebutkan berapa harga total yang harus dibayarkan oleh si pengunjung.

Praktek ini mungkin tidak lagi dijumpai di resto era sekarang ini. Resto sekarang sudah menyiapkan kalkulasi  tanpa meminta pengunjung untuk menyebutkan satu per satu yang dikonsumsinya. Si pengunjung hanya perlu menyebutkan nomor meja dan makanan tambahan yang belum dimasukkan pada catatan si kasir.

Meskipun anomali ini terjadi, warung nasi ini laris manis. Bagaimana warung ini bisa survive ? Saya akan menuliskan telaah lanjutan pada tulisan sambungan pada tulisan Jilid 2.

10 responses to this post.

  1. Selamat pagi. Wah blognya bagus nih, artikelnya sangat memberi inspirasi. Oiy kunjungi blog saya juga ya.. Salam kenal ya,😀

    Balas

  2. Posted by Den Mas on Februari 24, 2011 at 3:03 pm

    hhmmmm…….. numpang saran pak, kalau menurut saya banyak aspek manajemen yang ada di Gudeg Lumintu namun tidak terekam secara langsung. maksudnya…… Berawal dari nama yaitu Lumintu yang artinya Terus menerus ada (manajemen hoki) he he he he. selanjutnya mereka berdiri sejak 68 yang berarti cita rasa yang konsisten dari masa ke masa dan para pelanggan mereka hanya mengandalkan promosi mulut ke mulut dan keturunan ke keturunan…. (saya tahu juga dari bapak saya)…….
    Next………… (pak hadi saja yang melanjutkan…… )
    Maturnuwun Pak

    Balas

  3. Posted by Yones on Februari 24, 2011 at 7:48 pm

    Saya yakin usaha ini pasti survive pak..
    karena kekuatannya sudah teruji..
    sudah berdiri sejak 1968 pak..
    kita berdiri 1 jam aja kaki udah gemeteran..
    he3…=p

    Balas

  4. Posted by Nur Shilvana S on Februari 26, 2011 at 5:44 am

    Tulisan bapak membuat saya untuk tidak takut berbisnis ala gudeg lumintu yang dikenal dengan anomalinya, satu yang dapat saya simpulkan : cita rasa adalah nomor 1, dimanapun tempatnya pasti konsumen akan mencarinya,,ibarat semut yang akan mengerumuni tempat yang menyediakan gula dimanapun jauhnya.
    Wass

    Balas

  5. artikelnya bagus saya isi komentar lagi gapakan? biar ngeramein :)) visss

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: