Belajar Menulis

Saya mengamati bagaimana mahasiswa saya menulis tugas akhirnya beberapa tahun terakhir ini. Saya biasa berfokus pada paparan (tulisan) mereka pada bab keempat yang berjudul hasil dan pembahasan. Alasan saya melakukan ini adalah bab keempat ini merupakan bagian yang paling orisinal sehingga ketrampilan si penulis untuk memaparkan hasil penelitian, mendeskripsikannya, dan membahasnya dalam konteks tertentu sangat dibutuhkan.

Saya mengamati dua hal yang saya anggap sebagai kesulitan utama, yaitu aspek kebahasaan dan alur pengembangan tulisan. Aspek kebahasaan berkaitan dengan kaidah penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sedangkan alur pengembangan tulisan berkaitan dengan ketrampilan mengekspresikan ide dan gagasan.

Aspek Kebahasaan

Permasalahan klasik dalam aspek kebahasaan adalah perihal penyusunan kalimat. Berdasarkan pengamatan saya, mahasiswa sering melupakan definisi tentang kalimat. Akibatnya, mereka sering menuliskan serangkaian kumpulan kata, tanpa disadarinya.

Kalimat dan serangkaian kumpulan kata adalah dua hal yang “serupa tapi tak sama”. Kalimat adalah serangkaian kumpulan kata yang berstruktur Subyek Predikat Obyek Keterangan (SPOK). Struktur SPOK ini yang menjadi ciri utama agar suatu rangkaian kumpulan kata adalah kalimat. Serangkaian kumpulan kata yang tidak berstruktur adalah bukan kalimat, melainkan frase. Yang seharusnya dituliskan dalam suatu narasi adalah kalimat-kalimat, bukan beberapa kumpulan kata.

Untuk bisa menyadari apakah yang kita tuliskan adalah kalimat atau sekedar kumpulan kata, kita perlu mengevaluasi lagi apakah struktur SPOK telah ada. Jika struktur SPOK ada, maka serangkaian kumpulan kata tersebut adalah kalimat. Sebaliknya, jika struktur SPOK tidak ada, maka kita belum menuliskan kalimat. Evaluasi seperti ini harus dilakukan pada setiap baris dalam narasi secara konsisten.

Sebagai seorang yang bukan ahli bahasa, saya biasanya mengindentifikasi apakah struktur SPOK ada dalam suatu kumpulan kata-kata dengan cara melihat keberadaan predikat. Predikat tersebut bisa jadi adalah kata kerja atau kata pemredikat (seperti kata adalah, merupakan, ialah, dan semacamnya). Begitu predikat telah teridentifikasi, subyek dan obyek dari kalimat akan mudah diketahui. Sederhananya, kata benda sebelum predikat adalah subyek kalimat dan kata benda setelah predikat adalah obyek. Dengan tips sederhana ini, kalimat yang baik dan benar dapat disusun.

Coba kita telaah cuplikan-cuplikan berikut ini:

“Beberapa agenda utama akan dibahas dalam rapat ini. Yakni, laporan pertanggunjawaban pengurus lama. Dan, pemilihan pengurus baru periode lima tahun berikutnya….”

“Peristiwa ini merupakan peringatan bagi para penebang hutan. Seperti yang dilakukan oleh Mr. X dan Mr. Y, warga kota lama.”

“berdasarkan hasil evaluasi strategi, selanjutnya menentukan alternatif strategi dengan menggunakan analisis SWOT. “

“diharapkan, kepada masyarakat sebelum mengambil keputusan menabung atau meminjam dengan memperhatikan tingkat risiko bank.”

Pada cuplikan pertama, kumpulan kata-kata pertama adalah suatu kalimat. Indikatornya adalah predikat “akan dibahas”. Namun, kumpulan kata-kata yang kedua dan ketiga bukan merupakan kalimat karena tidak ada predikat pada keduanya. Menurut saya, cuplikan tersebut seharusnya diubah menjadi sebagai berikut:

“Beberapa agenda utama akan dibahas dalam rapat ini. Pertama adalah laporan pertanggunjawaban pengurus lama. Kedua adalah pemilihan pengurus baru periode lima tahun berikutnya….”

Pada cuplikan kedua, kumpulan kata-kata tersebut seharusnya disusun sebagai satu rangkaian kalimat saja. Menurut saya, cuplikan tersebut seharusnya diubah menjadi sebagai berikut:

“Peristiwa ini merupakan peringatan bagi para penebang hutan, seperti Mr. X dan Mr. Y, warga kota lama.”

Kumpulan kata-kata dalam cuplikan ketiga sebenarnya sudah mempunyai predikat, yakni kata kerja “menentukan”. Namun, subyek dalam kumpulan kata-kata tersebut belum ada. Menurut saya, cuplikan tersebut seharusnya diubah menjadi sebagai berikut:

“berdasarkan hasil evaluasi strategi, selanjutnya alternatif strategi ditentukan dengan menggunakan analisis SWOT. “

Kumpulan kata-kata pada cuplikan terakhir hampir berstruktur yang sempurna. Menurut saya, cuplikan tersebut seharusnya diubah menjadi sebagai berikut:

Masyarakat diharapkan untuk memperhatikan tingkat risiko bank sebelum mengambil keputusan menabung atau meminjam dengan.”

Alur Pengembangan Tulisan

Permasalahan klasik berikutnya berkaitan dengan alur pengembangan tulisan. Seringkali, mahasiswa merasa mentok dengan apa yang mau dituliskannya. Kebuntuan semacam ini adalah hal yang wajar terjadi. Ada dua tips (dari 10 tips) yang disarankan oleh Jack Trout dan Steve Rivkin (dalam buku yang berjudul “Change!” karya Rheinald Kasali, halaman 221) yang mungkin relevan untuk mengatasi kebuntukan ini, yakni (a) biasakan menulis dengan kalimat-kalimat pendek dan (b) tuliskan seperti kita berbicara.

Tips yang pertama ini masih berkaitan dengan struktur kalimat. Tips ini menyarankan kita sebagai penulis untuk menggunakan kalimat sederhana (berstruktur SPOK) dan menghindari penggunaan kalimat majemuk. Dengan kalimat sederhana, alur pemaparan ide dan gagasan akan lebih mudah untuk dibaca dan dipahami. Penggunaan kalimat majemuk, jika kita tidak terlatih atau terbiasa, akan mudah mengaburkan makna dari ide atau gagasan yang kita ingin sampaikan.

Tips kedua sangat relevan dengan budaya lisan. Dalam pergaulan sehari-hari, kita bisa mengamati bahwa seseorang cenderung lebih suka atau mudah menyampaikan sesuatu secara lisan dibanding secara tulisan. Dia bisa menjelaskan sesuatu secara panjang lebar dengan dilengkapi oleh argumentasi yang mendukung. Namun, begitu dia diminta untuk memberikan ulasan dalam bentuk tertulis, masalah pengekspresian ide, gagasan, atau argumentasi menjadi tidak lancar. Masalah ini tidak perlu terjadi jika prinsip atau tips kedua ini diterapkan. Singkatnya, kita perlu belajar menuliskan sesuatu persis seperti kalau kita menyampaikan sesuatu itu secara lisan.

Hal yang perlu mendapatkan perhatian berkenaan dengan penggunaan tips kedua tersebut adalah struktur tata bahasa. Dalam berwicara, kita seringkali tidak terlalu memperhatikan struktur tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Justru, kita sering merasakan hal yang agak aneh atau kaku jika kita berbicara dalam tata bahasa standar. Misalnya, kita lebih menyukai penggunaan “ndak akan” dibandingkan “tidak akan”. Oleh karena itu, kecuali tata bahasa lisan kita sudah sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, tips “menulis seperti kita berbicara” ini harus dilakukan secara cermat.

Selamat mencoba!

2 responses to this post.

  1. Saya setuju dengan Anda. Kesalahan seperti ini banyak terjadi baik di tulisan akademis maupun di tulisan jurnalistik. Dalam bahasa Inggris, orang menyebut kesalahan ini dengan fragment, yaitu susunan kalimat yang tak lengkap: biasanya tanpa subyek atau tanpa prediket.

    Kesalahan umum lainnya ialah run-on sentence. Ia adalah kalimat yang disambung-sambung dengan tanda koma, ini sangatlah salah (lihat, saya baru saja bikin kalimat run-on).

    Balas

    • Terima kasih. Saya justru belajar dan memahami kalimat setelah saya belajar bahasa Inggris. Pengalaman saya ini adalah salah kaprah. Saya seharusnya memiliki bahasa ibu yang baik dan benar terlebih dahulu sebelum mempelajari bahasa asing.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: