Bisnis Makanan Tradisional: Bagaimana Bisa Survive ? (Jilid 2)

Tulisan ini adalah bagian tulisan saya pada Jilid 1. Pada tulisan terdahulu, saya berusaha untuk mengeksplorasi anomali manajemen pada bisnis makanan tradisional. Kali ini, saya mencoba untuk mengeksplorasi apa yang dipraktekkan oleh bisnis tersebut dalam konteks ilmu manajemen. Berikut ini adalah beberapa poin yang mungkin menjelaskan mengapa bisnsi ini bisa survive di tengah hiruk pikuk persaingan yang sangat intens:

a.       Concern dengan produk dan kualitasnya

Warung makan ini terlihat concern dengan produk dan kualitasnya. Saya bisa melihatnya dari ragam sajian makanan yang ada. Gudeg nampaknya menjadi core competence dari warung ini. Ketekunan dan kesungguhan pemilik pertama, sebagai chef leader utama, mendorong warung ini konsistensi terhadap produk dan kualitasnya. Cita rasa makanan yang tidak berubah dari waktu ke waktu menjadi ciri khas warung ini. Meskipun tidak seasli gudeg dari kota asalnya, Jogjakarta, cita rasa ini mampu me-retain pelanggan. Tidak jarang saya melihat dan bertemu orang-orang yang sama saat saya berkunjung ke warung ini pada waktu sebelumnya.

b.      Branding yang kokoh

Nama warung ini telah menjadi suatu branding yang kokoh. Wong njember asli sudah tidak asing dengan sebutan nama warung ini. Kekokohan branding ini telah membentuk image di benak penikmat kuliner tradisional. Begitu keinginan makan gudeg muncul, pilihannya bisa dikatakan tidak ada lagi selain warung ini. Tentunya, membangun branding yang kokoh ini membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang luar biasa. Konsisitensi dan kesetiaan pemilik terhadap bisnis ini sejak 1968 merupakan modal utama terwujudnya branding yang kokoh ini.

c.       Promosi word to mouth

Warung ini memang tidak menggunakan promosi melalui papan reklame. Tetapi, jangan dikira promosi tidak diaplikasikan oleh warung ini. Media promosi yang digunakan oleh warung ini adalah pelanggannya. Alias, warung ini menggunakan promosi word to mouth melalui pelanggannya. Promosi semacam ini adalah promosi getok tular. Media ini adalah yang paling murah karena si empunya produk tidak perlu mengeluarkan bujet untuk promosi. Pelangganlah yang secara suka rela, tanpa kompensasi apa pun, yang melakukan itu.

d.      Penciptaan consumer value

Satu hal yang mungkin tidak disadari oleh pemilik warung adalah bahwa warung ini telah dikelola untuk menciptakan consumer value. Dalam era sekarang ini, customer value memang sedang menjadi salah satu cara untuk meraih hati pelanggan. Banyak sekali dimensi customer value yang bisa didayagunakan, antara lain quality. Sebagaimana telah diulas pada poin pertama, warung ini concern dengan kualitas produknya. Alhasil, pelanggan yang datang merasakan bahwa kenikmatan dan sensasi sarapan pagi menu tradisional yang melebihi harga sarapan pagi itu.

 

Ada pendapat lain ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: