Urban Forrestation

Mengatasi persoalan global warming bukanlah monopoli para petinggi negara ataupun penggiat peduli lingkungan. Kita masyarakat yang bukan petinggi negara ataupun penggiat peduli lingkungan bisa ikut andil melakukan upaya positif untuk mengatasi isu ini. Kita yang tinggal di perkotaan yang tidak memiliki lahan hijau terbuka bisa berpartisipasi aktif mengatasi isu ini.

Ya, kita bisa berpartisipasi dalam kegiatan penghijauan perkotaan (urban forrestation). Tidak perlu kita menanam pohon besar untuk melakukan kegiatan ini karena di kota tempat kita tinggal sudah tidak menyisakan lahan terbuka. Namun, kita bisa memanfaatkan tembok pagar atau dinding gedung untuk dijadikan sebagai media penghijauan ini.  Bagaimana caranya ?

Pertama, kita perlu melakukan persiapan lahan dan bibit tanaman. Lahan yang kita akan gunakan adalah tembok pagar di rumah kita, sebagian dinding luar rumah kita, tembok-tembok di kantor kita, tembok di sekolah-sekolah, dan tembok-tembok lainnya. Kita perlu mempersiapkan lubang-lubang pada tanah tepat di sisi tembok atau dinding yang dipilih. Lahan tanah ini tidak perlu luas, bisa sekitar 10 cm kali panjang tembok. Berikutnya, kita menyiapkan bibit tanaman dari ragam tanaman yang bisa hidup merambat pada tembok atau dinding. Persiapan bibit ini tidak ribet karena kita bisa menggunakan teknik stek untuk memperbanyak bibit ini.

Kedua, kita melakukan kegiatan penanaman. Lahan tanah yang sudah dipersiapkan perlu digemburkan untuk kedalaman tertentu (secukupnya) dan ditambah dengan kompos untuk menyuburkan media tanam. Berikutnya, stek-stek bibit ditancapkan pada media tanam. Untuk mempercepat program penghijauan dan mengantisipasi bibit tanaman yang mati, kita perlu menaman bibit dalam jumlah yang cukup banyak di sepanjang tembok atau dinding yang kita jadikan obyek.

Ketiga, kita melakukan kegiatan perawatan tanaman. Kegiatan perawatan yang dilakukan adalah kegiatan penyiraman tanaman. Jika curah hujan cukup, kegiatan ini tidak perlu kita lakukan lagi. Kegiatan perawatan lain adalah kegiatan pemotongan ujung daun tanaman (prunning). Pemotongan dilakukan setelah tanaman mulai merambat ke tembok. Pemotongan ini dimaksudkan agar tanaman cepat bercabang dan daunnya cepat menutupi permukaan tembok.

Terakhir, kita melakukan pemangkasan rutin. Kegiatan ini dilakukan setelah seluruh permukaan tembok sudah tertutupi oleh daun tanaman. Dalam pemangkasan ini, kita berusaha untuk mengurangi ketebalan tanaman sehingga kelihatan rapi dan menempel pada tembok. Biasanya, dalam kurun dua – tiga minggu pemangkasan ini perlu dilakukan.

Program atau kegiatan ini memberikan benefit setidaknya dari dua sisi. Pertama adalah dari sisi lingkungan. Konon, setiap satu meter persegi hijauan yang kita tanam akan memberikan asupan kebutuhan oksigen untuk satu orang per tahun. Jika rumah kita berpenghuni lima orang jiwa, setidaknya kita melakukan penghijauan seluas lima meter persegi. Hal ini tidak terlalu sulit karena sisi luar dan dalam dinding rumah kita bisa jadi sudah seluas itu.

Kedua adalah benefit dari sisi finansial. Dinding atau tembok yang kita jadikan media penghijauan sudah tidak memerlukan perawatan atau pengecatan. Hal ini berarti ada penghematan untuk biaya perawatan rumah atau gedung. Kalau ada orang bilang bahwa tembok dinding akan dirusak oleh tanaman ini, tidak sepenuhnya benar. Kita bisa mendesain dinding tembok itu dengan bahan yang tidak mudah ditembus pori-porinya sehingga tanaman tadi hanya merambat saja (tidak menggerogoti dinding).

Kalau saja gerakan ini dilakukan secara kolektif, masyarakat kota akan ikut andil melakukan forrestation untuk “menebus dosa” telah melakukan deforrestation.

Anda tertarik ? Saya sudah mencobanya….

2 responses to this post.

  1. Tapi rasanya sult bagi kita untuk mengajak dan menyadarkan masyarakat urban perkotaan untuk mau melakukan aksi penghijauan. Pasalnya, bagi masyarakat perkotaan kebanyakan mereka acuh atau tidak peduli terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya, mereka cenderung bekerja dan terus meningkatkan produltivitas tanpa merasa bertanggung jawab terhadap lingkungan.

    Mungkin cara lainnya adalah dengan memperbanyak ruang “hijau” terbuka publik di perkotaan. Serta mengubah sikap kita untuk bersikap bijak terhadap penggunaan energi yang efektif dan efisien

    Balas

    • ya..ruang hijau terbuka merupakan solusi juga. kita tidak perlu pesimis kalau “kesadaran” masyarakat masih rendah untuk peduli lingkungan. prinsipnya, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang, dan mulai dari sedikit (prinsip ini pernah dipopulerkan lagi oleh Aa Gym). by the way, thanks for the comments.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: