Di Tepi Jaman: Si Penjual Keranjang Bambu

Pagi ini, Minggu 13 Maret 2011, seorang yang memikul sekitar 20an keranjang bambu berhenti di depan rumah. Dengan agak memelas, dia meminta saya untuk membeli keranjang bambu seharga Rp 3.000. Mungkin, ia melihat keranjang sampah dari bambu di depan rumah saya sudah layak diganti dengan yang baru. Sebenarnya, saya tidak membutuhkan keranjang itu karena saya masih mempunyai satu keranjang untuk cadangan. Tetapi, saya akhirnya memutuskan untuk membeli saja keranjang bambu itu meskipun hanya sebuah.

Pada awalnya, saya tidak terlalu menggubris peristiwa tadi sampai saya menyadari bahwa peristiwa tersebut menyentuh dimensi bisnis tradisional di tepi jaman. Kalau flash back ke beberapa puluh tahun lampau, keranjang bambu baik untuk tempat sampah ataupun yang lain adalah produk yang dibutuhkan. Tetapi seiring dengan kemajuan jaman, keranjang bambu ini tergusur oleh produk kompetitor yang dibuat dari plastik atau bahan lainnya. Alhasil, tidak banyak orang yang menoleh pada keranjang bambu ini.

Lalu, mengapa si penjual masih bertahan menjajakan produk keranjang bambu ini ? Saya mencoba mengulasnya dari beberapa sudut pandang.

Pertama, si penjual ini tidak mempunyai pilihan lain dalam mencari nafkah (saya asumsikan begitu). Dia ini  “hanya” bisa menjual keranjang tersebut tanpa ada modifikasi bentuk dan fungsinya. Gaya produk yang relatif “standard” dan “kuno” tidak mampu menarik minat konsumen untuk membeli. Jadinya, permintaan akan barang ini menjadi menurun drastis atau bahkan tidak ada.

Kedua, si penjual ini hanya mengenal berjualan dengan cara “proaktif”menjajakan barang dagangan dengan cara berjalan keliling dan berpindah dari satu perumahan ke perumahan. Seandainya saja dia menemukan outlet yang menampung barang-barang semacam, barangkali si penjual ini bisa lebih efisien dan efektif dalam menjual. Setidaknya dia bisa menerapkan prinsip konsinyasi.

Ketiga, penjual atau produsen produk dari bambu memang membutuhkan sentuhan baru. Produk semacam ini hanya akan bisa bertahan jika keunikannya dieksplorasi. Produk ini mungkin dipoles dengan cara memberikan warna yang menarik. Sentuhan semacam ini bisa membentuk produk menjadi lebih “matang”. Keranjang bambu yang dijajakan oleh penjual sama sekali tanpa sentuhan sehingga produk ini kelihatan seperti produk belum siap jual.

Keempat, si penjual mungkin tidak menyadari sepenuhnya bahwa jaman telah berubah. Atau sebenarnya ia sudah menyadarinya tetapi tidak memiliki daya upaya untuk mengikuti perubahan jaman.

Si penjual ini rasanya sudah benar-benar hidup di tepi jaman. Mungkin, dia membutuhkan manusia setengah dewa yang bisa mengangkat harkat hidup mereka dari tepi jaman. Mudah-mudah diantara pembaca  tulisan ini ada bisa menjadi manusia setengah dewa itu, yang mempunyai personal social responsibility.

3 responses to this post.

  1. Posted by Enggar Puspita on Maret 22, 2011 at 5:06 pm

    aku sering liat org2 sperti penjual keranjang bambu itu. ada yg menjual “gedek” (dinding anyaman bambu) dengan di pikul, ada penjual buah pikul yg rata2 usia mereka sdh senja. terharu melihatnya. namun aq salut karena mereka masih mau berusaha. jika kita bukan manusia setengah dewa itu, maka luangkanlah hati kita untuk mendoakan agar mereka2 selalu dicukupkan rejekinya oleh Allah..amin..

    Balas

  2. saya terharu membacanya Pak..:'( semoga Tuhan memberikan berkat yang layak untuk mereka.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: