Tahukah Anda: Berapakah Remittance TKI asal Jember ?

Jawabannya adalah Rp 81 Miliar untuk tahun 2010 (Radar Jember, Senin 21 Maret 2011). Secara total, angka ini bisa melebihi alokasi anggaran pada suatu instansi pemerintah di Kabupaten Jember. Angka ini mengindikasikan bahwa di tengah hiruk pikuk warta tentang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di negeri jiran, peran TKI dalam ekonomi tidak dapat dipungkiri. Pantas memang jika mereka para TKI ini diberi predikat pahlawan devisa tanpa tanda jasa.

Bahwa gelontoran dana remittance senilai ini bisa mendorong geliat ekonomi di kabupaten ini sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Tetapi, secara per capita, bagaimana dana ini dibelanjakan harus disoal. Pola pembelanjaan dana remittance oleh keluarga TKI  harus diarahkan pada pola belanja produktif, bukan konsumtif. Mereka harus mengekang hawa nafsu konsumtifnya dan mengalihkannya pada nafsu untuk berinvestasi.

Cara yang sederhana untuk mengekang hawa nafsu konsumtif ini adalah:

a.       Membiasakan untuk membelanjakan uang untuk memenuhi kebutuhan (need) bukan keinginan (wants). Dalam berbelanja, mereka harus selalu menanyakan pada dirinya apakah yang mereka akan beli adalah kebutuhan mereka. Jika bukan merupakan suatu kebutuhan, mereka harus menunda pengeluaran dana. Kebutuhan adalah sesuatu yang harus dipenuhi sehingga tidak bisa ditunda-tunda. Sementara keinginan adalah sesuatu yang bisa ditunda.

b.      Membiasakan untuk membelanjakan uang untuk menambah nilai ekonomi. Mereka harus berpikir tentang apa manfaat dan ongkos dari belanja mereka. Kalau manfaat dari berbelanja sesuatu itu lebih besar daripada ongkosnya, nilai tambah ekonomi (nitami) ada. Sebaliknya, jika ongkosnya yang lebih besar daripada manfaatnya, nitami tidak ada. Misalnya, seseorang yang mau membeli sepeda motor harus memikirkan apa nitami dari sepeda motor ini. Jangan kemudian, sepeda motor yang dibeli ini malah menjadi beban ekonomi baru karena ongkosnya yang tidak sepadan dengan manfaatnya.

c.       Membiasakan diri untuk tidak menjadi korban tren. Sebenarnya, cara ini merupakan buah dari cara pertama dan kedua. Kalau saja sudah tahu kebutuhan lebih penting daripada keinginan dan memahami nitami, mereka tidak akan menjadi korban tren. Mereka akan membelanjakan uang mereka secara selektif dan tidak sekedar ikut-ikutan. Jika tren di masyarakat menjadi beban baru bagi ekonomi keluarga, mereka tidak perlu mengorbankan diri dan keluarga untuk mengikuti tren tersebut.

Mudah-mudahan para TKI ini tetap dikenang sebagai pahlawan devisa tanpa tanda jasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: