Serba-Serbi Analisis Titik Impas (3)

Mari kita coba menelusuri komponen per komponen dari analisis titik impas. Kali ini, kita akan mendiskusikan biaya tetap. Secara teoretis, biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang tetap (tidak berubah) meskipun pemicu biaya (cost driver) berubah. Cost driver ini bisa jadi adalah aktivitas (volume) produksi atau aktivitas lainnya, bergantung pada jenis usahanya. Dalam konteks yang berbeda, biaya tetap ini dibedakan dari beban tetap (catatan: perbedaan ini bisa dibaca dalam posting “Apakah beban = biaya?”)

Contoh tentang biaya tetap ini pernah dituliskan pada topik Mengenali Risiko Bisnis. Namun, ada baiknya contoh tersebut dituliskan ulang dalam kesempatan ini:

a.       Beban sewa. Bisnis yang menyewa tempat usaha harus mengeluarkan beban sewa secara periodik,  misalnya secara bulanan atau tahunan. Beban sewa tidak bergantung pada hari kerja atau volume produksi (penjualan) dari bisnis tersebut . Berapa pun hari kerja atau volume produksi perusahaan, jumlah pengeluaran untuk beban ini akan tetap jumlahnya.

b.      Gaji karyawan administrasi. Karyawan bagian administrasi biasanya digaji secara tetap (bulanan). Tidak peduli berapa pun aktivitas perusahaan, karyawan ini berhak mendapatkan gaji tetap tersebut. Dengan demikian, gaji karyawan ini merupakan biaya (beban) tetap.

c.       Beban penyusutan. Beban ini berkaitan dengan penggunaan aset tetap (aset yang memiliki umur ekonomis lebih dari satu tahun), seperti mesin produksi, etalase, dan lain-lain. Secara periodik (tahunan), beban ini harus diperhitungkan sebagai bentuk kompensasi terhadap penggunaan aset tersebut. Beban ini akan bersifat tetap berapa pun level aktivitas perusahaan

Dalam tulisan sebelumnya didiskusikan bahwa jika biaya (beban) tetap dikurangi (diturunkan) maka tingkat titik impas akan berkurang. Dalam prakteknya, ada beberapa tindakan bisnis yang bisa dilakukan untuk menekan biaya tetap ini, yaitu:

a.       Melakukan negosiasi. Langkah ini merupakan langkah yang boleh dikatakan bersifat konvensional. Pebisnis menekan biaya tetap dengan cara melakukan negosiasi dengan pihak lain. Untuk kasus beban sewa, pengurangan beban ini bisa dilakukan dengan cara memberikan skema sewa yang lebih lama atau menawar sedemikian rupa sehingga harga sewa menjadi relatif ekonomis (murah). Untuk kasus beban penyusutan, pengusaha bisa mencari alat (atau aset) yang relatif murah harganya (dengan kualitas yang relatif masih baik). Harga perolehan aset yang lebih murah akan menyebabkan beban penyusutan yang lebih rendah sehingga beban tetap akan menjadi lebih rendah.

b.      Mengkonversinya menjadi biaya variabel. Langkah ini relatif lebih inovatif. Pengusaha bisa jadi tidak melakukan negosiasi seperti pada poin (a) melainkan mengubah skema pembayarannya. Skema pembayaran diatur sedemikian rupa sebagian beban (atau semua beban, jika memungkinkan) dirancang atau dialihkan menjadi beban yang bersifat variabel (tidak tetap). Dalam kasus beban sewa, pengusaha bisa saja menawarkan skema kerjasama bagi hasil sehingga beban sewa tidak perlu dibayarkan secara tetap. Dengan skema ini, beban sewa akan menjadi variabel (berubah-ubah) mengikuti banyaknya (volume) penjualan. Jika bisnis “ramai”, beban sewa akan relatif membesar (bahkan lebih besar daripada beban tetap). Sebaliknya, jika bisnis “sepi”, beban sewa ini akan relatif lebih murah. Dalam kasus gaji pegawai, pengusaha bisa memilah gaji menjadi gaji pokok ( yang dibayarakan secara tetap dan periodik) dan gaji bonus (yang dibayarkan menurut proporsi tertentu dari omset penjualan). Dengan skema pembayaran gaji ini, komponen fixed pada gaji dapat ditekan sehingga pada gilirannya akan mengefisienkan jumlah beban tetap.

Aplikasi langkah pertama relatif tidak memiliki konsekuensi apa pun yang berkaitan dengan tingkat titik impas. Artinya, aplikasi langkah tersebut pasti akan menyebabkan penurunan tingkat titik impas, ceteris paribus. Aplikasi langkah kedua memiliki konsekuensi yang patut dipertimbangkan. Konversi sebagian beban tetap menjadi beban variabel akan menyebabkan penyebut pada formula titik impas akan menurun. Penurunan nilai penyebut ini bisa mengakibatkan tingkat titik impas tidak berkurang. Dengan demikian, alternatif ini harus digunakan secara cermat dan berhati-hati.

Alhamdulillah, kita sudah mendiskusikan komponen pertama dalam analisis titik impas. Insya Allah, kita akan melanjutkan ke komponen berikutnya. Keep the spirit !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: