Menyusun Pembahasan Hasil (Penelitian): Jilid III-habis

Aspek Implikasi Hasil

Akhirnya, seri tulisan ini muncul lagi. Baik, untuk sekedar merefresh ingatan pembaca semua, saya mengingatkan bahwa dua tulisan yang lalu telah lalu, yakni pada Jild I dan II, telah mendeskripsikan bagaimana melakukan pembahasan hasil penelitian dari sudut pandang kajian teoretis dan kajian empiris. Kali ini, kita akan mendiskusikan aspek yang ketiga dalam pembahasan hasil penelitian, yaitu aspek implikasi hasil.

Hasil penelitian, baik yang mampu membuktikan hipotesis maupun yang tidak, pada dasarnya mempunyai implikasi (dampak/konsekuensi) bagi obyek penelitian. Si peneliti harus mendiskusikan hasil penelitian ini dalam konteks implikasi tersebut. Dalam hal ini, si peneliti harus menginterpretasikan hasil penelitian dalam konteks implikasi atau konsekuensi praktikal dari hasil penelitian bagi obyek penelitian.

Alasan yang mendukung mengapa aspek implikasi ini perlu dikemukakan adalah bahwa penelitian dilakukan berdasarkan suatu basis data historis (yang sudah terjadi). Dengan demikian, jika si peneliti tidak mendiskusikan implikasi dari hasil penelitiannya maka ia hanya berhenti pada konteks cerita historis (yang sudah terjadi). Pembahasan mengenai implikasi hasil penelitian akan membawa konteks penelitian ke arah masa depan, bukan pada masa lalu (historis).

Untuk dapat mendiskusikan hasil penelitian dari sudut pandang implikasi praktikal ini, si peneliti dapat menggali apa saja yang bisa dipelajari/dilakukan oleh stakeholders penelitian dalam kaitannya dengan hasil penelitian. Stakeholders penelitian adalah pihak-pihak yang mungkin mendapatkan manfaat dari penelitian. Tentunya, stakeholders utama adalah obyek yang diteliti. Fokus utama peneliti sebaiknya diarahkan pada pemaknaan (interpretasi) hasil penelitian yang bersifat praktis yang bisa dipelajari/dilakukan oleh stakeholders.

Berikut ini adalah beberapa illustrasi yang mungkin bisa memperjelas uraian di atas.

a.       seorang peneliti menyimpulkan bahwa petani kopi biji bersifat risk neutral. Artinya, petani bersifat netral terhadap peristiwa-peristiwa aktual (terjadi sekarang). Implikasi hasil ini adalah (a) petani kopi  seharusnya tidak mereaksi peristiwa sekarang secara instan (misalnya, jika harga kopi sekarang turun, petani tidak melakukan penebangan pohon kopinya) dan (b) petani kopi seharusnya lebih memfokuskan usaha taninya untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang (karena tanaman kopi ini mempunyai gestation period sekitar 3 tahun).

b.      Seorang peneliti menyimpulkan bahwa berdasarkan hasil analisis net present value suatu proyek pengembangan usaha tidak layak dilakukan. Diskusi implikasi dari hasil ini dapat diarahkan untuk mengelaborasi tindakan apa yang bisa disarankan agar proyek pengembangan usaha tersebut dapat menjadi layak untuk dilakukan. Dengan berorientasi pada komponen analisis, peneliti dapat mengarahkan elaborasinya pada (a) kemungkinan untuk meningkatkan net cash flow, (b) kemungkinan untuk memperpanjang atau memperpendek umur ekonomis dari proyek, dan (c) kemungkinan untuk menurunkan tingkat diskonto proyek yang dalam hal ini berkaitan dengan penurunan biaya modal dari investasi pada proyek tersebut.

c.       Seorang peneliti menemukan bahwa gaya kepemimpinan kepala sekolah tidak berpengaruh terhadap kinerja guru. Implikasi dari temuan ini adalah (a) integritas guru dalam menjalankan tugasnya tidaklah bergantung pada gaya kepemimpinan seorang kepala sekolah (sederhananya, guru menjalankan tugas bukan karena siapa kepala sekolahnya), (b) peningkatan kinerja guru seharusnya diupayakan dari faktor selain gaya kepemimpinan ini, dan (c) relasi antara kepala sekolah dan guru pada suatu sekolah relatif bersifat kolegial, bukan relasi atasan-bawahan.

d.      Seorang peneliti menemukan bahwa ada dua kluster (kelompok) usaha pada agroindutri perikanan di suatu wilayah, yaitu (a) kluster usaha yang tradisional/konvensional dan (b) kluster usaha yang modern. Implikasi dari temuan tersebut bisa diarahkan bahwa upaya pengembangan dan pemberian bantuan teknis oleh para stakeholders bagi berbagai bisnis agroindutri perikanan seharusnya tidak digeneralisasi (atau satu program untuk semua) melainkan disesuaikan dengan klusternya (misalnya, program pengembangan untuk kluster pertama difokuskan pada pembenahan manajerial sedangkan program pengembangan untuk kluster kedua diarahkan untuk pengembangan jaringan pemasaran dengan menggunakan sarana prasaran modern).

e.      Seorang peneliti mengidentifikasi bahwa moda transportasi kereta api kelas eksekutif didominasi oleh penumpang berpendapatan lebih dari Rp 3 juta per bulan, berlatarbelakang pendidikan minimal sarjana, dan berusia antara 30-45 tahun. Implikasi hasil ini adalah upaya marketing dari moda transportasi ini harus diorientasikan pada pemuasan kebutuhan konsumen/penumpang dengan karakteristik tersebut. Operator moda transportasi perlu mempelajari perilaku konsumen dengan karakteristik dan mengembangkan beberapa program marketing yang sesuai dengan mereka. Misalnya, operator KA memfasilitasi gerbong dengan sarana untuk memenuhi kebutuhan aplikasi multi media konsumen yang produktif, mengedepankan kenyamanan dalam gerbong, dan memberikan konten informasi (seperti surat kabar dan televisi) dalam gerbong.

Tentu saja,  dalam praktiknya uraian tentang implikasi praktikal dari hasil penelitian tidak perlu disusun dalam bentuk pointers. Penyajian diskusi dalam bentuk narasi-narasi dalam paragraf-paragraf akan lebih bersifat komunikatif.

Mudah-mudah bermanfaat dan jika Anda mempunyai pengalaman lain yang relevan dengan topik ini silahkan menambahkan komentar Anda pada tulisan ini.

9 responses to this post.

  1. Posted by Luh Putu on April 9, 2011 at 9:17 am

    thanks tips nya ya pak…tapi kadang tergantung selera reviewernya juga sih…mau yg singkat2 saja ato di narasikan…emang lebih nyaman di baca klo di narasikan….

    Balas

  2. silahkan komentari blog saya pak
    maklum masih belajar
    ini alamatnya http://cahyaeducation.wordpress.com/

    Balas

    • cahya, saya sudah lihat blg kamu. sepertinya, belum ada posting satu pun. saran saya, isi dengan tulisan-tulisan ringan (seperti kalau posting status di facebook). saya biasanya mulai menulis draft di msword. sekiranya tulisan itu sudah saya anggap baik, saya naikkan ke blog. barangkali, cara ini juga cocok buat kamu. tulis apa saja dan tidak usah kawatir apakah orang lain akan menyukai atau tidak. ingat ini adalah blog kamu sehingga kamu yang jadi “raja” di blog ini…

      Balas

  3. saya masih belum mengerti caranya membuat menu seperti punya bapak, masih berputar-putar dimasalah tampilan pak

    Balas

    • kamu log in dulu dengan cara klik “masuk log”. kemudian sesuaikan dengan menu yang ada disitu. kalau di wordpress, saya bisa pilih menu “tulisan” dan menambahkan (mengetikkan) tulisan disitu. kalau sudah selesai, kembali ke blog dan status di beranda sudah bisa dilihat. lebih gampang kalau kita ketemu saja…

      Hadi Paramu Faculty of Economics Jember University http://www.hadiparamu.wordpress.com

      Balas

  4. Posted by epifani on Agustus 2, 2011 at 7:08 am

    kalo untuk keterbatasan penelitian itu maksudnya gimana pak??? apakah di dalam keterbatasan penelitian itu penulis juga harus memberikan saran untuk penelitian selanjutnya atau kita hanya memaparkan keterbatasan2 dari hasil penelitian kita??

    Trimakasih pak,,

    Balas

    • keterbatasan penelitian adalah keterbatasan dalam metode. Jogiyanto (dari UGM) membedakan keterbatasan penelitian dari kemalasan peneliti. kalau keterbatasan penelitian berkaitan dengan ketidakmampuan metode penelitian yang kita gunakan untuk menjawab sesuatu yang perlu tetapi diluar konteks riset kita. Misalnya, saya mengaplikasikan goal programming untuk penentuan prioritas pengembangan industri kopi biji. Karena keterbatasan pemodelan dalam goal programming, temuan riset saya tidak bisa mengakomodasi aspek budidaya tanaman kopi biji dan aspek non ekonomi lainnya. Nah, ini adalah keterbatasan penelitian.

      kemalasan peneliti disebabkan oleh ketidakmauan peneliti untuk melakukan hal yang lebih serius. Misalnya, si peneliti sebenarnya bisa memperoleh 100 unit sampel tetapi dia hanya mengkaji 50 unit sampel. Alhasil, temuan riset tidak representatif. Nah, ini adalah kemalasan si peneliti.

      Setuju, kalau harus ada saran perbaikan untuk mengatasi keterbatasan penelitian. Saran perbaikan ini akan menyempurnakan konteks riset pada masa yang akan datang. Yang perlu dicatat adalah penelitian yang memiliki keterbatasan BUKANLAH penelitian yang buruk.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: