(Menjadikan) Alun-Alun Kota Sebagai Ladang Ekonomi Kerakyatan

Ada yang menarik di kegiatan minggu pagi di pusat kota Jember, alun-alun kota. Rasanya, magnet alun-alun kota sebagai pusat kegiatan olah raga di hari minggu pagi masih belum tertandingi oleh belahan lain di kota Jember. Mulai dari anak-anak, remaja, sampai orang dewasa melakukan berbagai aktivitas membakar keringat mulai dari jalan santai, jogging, sampai memainkan olah raga permainan. Semua orang membaur, lalu lalang ke sana ke mari, menikmati suasana seminggu sekali ini.

Keramaian ini seakan menjadi klop ketika intuisi bisnis sebagian masyarakat tergerak. Bak pasar dadakan, alun-alun telah menjadi pasar potensial bagi sejumlah pedagang yang menjajakan aneka kuliner, mainan anak-anak, hiasan dinding, tanaman hias, pakaian, dan lain-lain. Pasar seminggu sekali ini telah menjadi ladang baru untuk mengembangkan potensi ekonomi kerakyatan masyarakat Jember. Bisa dikatakan bahwa alun-alun kota ini merupakan laboratorium kewirausahaan berbasis ekonomi kerakyatan.

Bahwa alun-alun telah menjadi ajang pengembangan ekonomi kerakyatan mayoritas dari warga masyarakat kiranya menyetujuinya. Alun-alun sebagai simbol pusat kota adalah milik bersama seluruh lapisan masyarakat yang harus dijadikan sarana yang nyaman bagi pemiliknya itu untuk menikmatinya. Mau dijadikan apa alun-alun ini, pasar, tempat rekreatif, tempat berolah raga, atau kegiatan produktif dan positif lainnya terserah pada pemiliknya ini.

Namun, ada beberapa hal yang perlu dibenahi untuk mendukung atau menyuburkan ladang ekonomi kerakyatan ini, seperti:

  1. Tata letak yang lebih tertib

Bagaimanapun, penggunaan alun-alun kota untuk pengembangan bisnis ekonomi kerakyatan harus tidak mengabaikan fungsi alun-alun sebagai fasum (fasilitas umum/publik). Fungsi inti sebagai sarana rekreatif yang murah dan nyaman haruslah tetap dianggap sebagai suatu hal yang terpenting. Oleh karena itu, penataan letak yang tertib para pedagang harus diatur ulang. Jika para pedagang ini teratur, kenyamanan dan keindahan akan mudah diwujudkan. dan jika hal ini terjadi, alun-alun kota sebagai kawasan yang tertib dan aman tidak akan menjadi impian saja tetapi suatu kenyataan.

  1. Lalu lintas kendaraan yang diblokade

Kenyamanan alun-alun kota akan menjadi lebih maksimal jika dibarengi oleh blokade lalu lintas kendaraan di sekitar alun-alun kota. Blokade ini bisa dikemas dalam bentuk program car free day. Program ini bukanlah program baru di negeri kita. Sebagai contoh, kota Balikpapan telah menerapkan hal ini setiap hari minggu mulai jam 6 – 9 pagi di lapangan Merdeka. Nah, kalau saja alun-alun kota Jember ini dijadikan ajang program  car free day setiap hari minggu, barangkali ini akan menjadi sesuatu yang baru dan produktif bagi pengembangan alun-alun sebagai fasilitas umum yang tidak saja nyaman tetapi juga berudara bersih (bebas polusi) dan tertib.

  1. Tempat sampah dimana-mana

Keasrian alun-alun kota seringkali terganggu karena kebersihan lingkungan alun-alun kota seakan terabaikan oleh bertebarannya sampah dimana-mana. Seharusnya, hal ini tidak terjadi jika tempat sampah tersedia secara memadai, baik dalam jumlah maupun lokasinya. Untuk mengatasi sampah dimana-mana, tempat sampah harus disebar dimana-mana. Dengan cara ini, masyarakat sebagai konsumen akan dicegah untuk membuang sampah sembarangan dan dimudahkan untuk membuangnya di tempat sampah. Di sisi lain, tersedianya tempat sampah yang mudah terlihat akan memberikan edukasi kepada masyarakat agar ikut berpartisipasi aktif untuk menjaga kebersihan fasilitas umum.

Pertanyaan berikutnya adalah siapa yang bisa merealisasikan hal ini. Menurut saya, ada dua pihak yang kompeten dalam merealisasikannya, yaitu aparat pemerintah daerah dan masyarakat secara swadaya. Sebagai pihak yang memiliki power untuk menata kota, aparat bisa berinisiatif untuk memprakarsai ide ini. Di sisi lain, masyarakat secara swadaya dan swakarsa dapat juga berpartisipasi aktif mewujudkan cita-cita ini. Bagaimanapun, program semacam ini bukan tanggung jawab aparat saja melainkan tanggung jawab bersama, termasuk masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: