Asahansiana: Potensi Perkebunan Kelapa Sawit

Saya sudah seminggu ini tinggal di Kabupaten Asahan, yang beribukota di Kisaran Timur. Kawasan ini sebelumnya hanya akrab ditelinga saya. Pelajaran SD dulu, kalau tidak salah yang berkaitan dengan HPU (Himpunan Pengetahuan Umum), menyebutkan Asahan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan. Meskipun belum mengunjungi PLTA ini, saya bersyukur sudah bisa menginjakkan kaki ke Kabupaten Asahan.

Medan-Asahan bak Surabaya-Jember

Saya memulai perjalanan menuju ke Asahan dari Medan. Perjalanan darat dengan mobil ditempuh selama kurang lebih 4 jam. Jarak Medan-Asahan hampir sama dengan jarak Surabaya-Jember, sekitar 200 km-an. Orang setempat lebih suka mengukur jarak dengan satuan waktu (jam) dibandingkan dengan satuan ukur (kilometer). Akses menuju Asahan bisa ditempuh dengan bus antar kota antar provinsi yang melintasi jalur timur Sumatera dan Kereta Api jalur Medan – Rantau Prapat.

Melakukan perjalanan Medan-Asahan, saya rasa seperti melakukan perjalanan Surabaya-Jember. Ada yang mirip antara kedua jalur ini, yakni kepadatan kendaraan yang menyebabkan kemacetan di beberapa titik (kawasan). Jalur Medan-Asahan memang jalur utama di sisi timur pulau Sumatera ini sehingga semua jenis kendaraan tumpleg bleg di jalur ini.

Potensi Perkebunan

Kabupaten Asahan ini adalah kawasan yang dikelilingi oleh perkebunan. Sebelum Bakrie Sumatera Plantation (BSP) masuk ke kawasan ini, perkebunan karet mendominasi lahan perkebunan di kabupaten ini. Sekarang ini, perkebunan karet masih ada tetapi jauh lebih sempit lahannya. Sejak masuknya BSP, lahan perkebunan karet banyak dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Hampir sebagian besar lahan perkebunan di kabupaten ini adalah perkebunan kelapa sawit. Bisa dikatakan, sejauh mata memandang pohon (pokok, demikian orang setempat menyebutnya) kelapa sawit adalah pemandangan indahnya. Konon, kurang-lebih 25.000 Ha lahan karet telah dikonversikan menjadi lahan kelapa sawit.

Secara sosial ekonomi, bisnis perkebunan sawit ini memang menggiurkan. Setiap satu hektar kebun sawit ini bisa, secara perhitungan kasar, memberikan pendapatan bersih sekitar Rp. 3.000.000,- kepada pemiliknya. Bisa dibayangkan, jika seorang kepala keluarga mempunyai dua hektare kebun sawit saja, dia sudah bisa menghidupi keluarganya dengan sangat baik. Analogi dua hektar ini berdasarkan skema program transmigrasi yang pernah populer beberapa dekade lalu. Kalau saja hitung-hitungan ini benar terjadi, betapa makmurnya masyarakat di Kabupaten Asahan ini.

Kalau saja hitung-hitungan tersebut tidak benar, mudah-mudahan perusahaan sebesar BSP tidak membawa hasil panen keluar dari wilayah Asahan begitu saja. Kalau terjadi outflow dana dari Asahan, masyarakat akan menjadi pekerja saja yang income rendah. Kepedulian perusahaan besar melalui program corporate social responsibility merupakan salah satu cara mengendapkan dana hasil bumi di daerah asalnya agar kesejahteraan masyarakat setempat tidak terabaikan.

7 responses to this post.

  1. Faktanya, hanya sebagian kecil saja yang masih memiliki perkebunan sawit, mayoritas menjadi penjaga kebun sawit eks miliknya, atau menjadi buruh pekerja.
    Sepertinya program CSR dari Perusahaan B*P belum pernah denger deh sosialisasinya seperti apa…
    Masyarakat masih mengidolakan anak2nya jd PNS, meskipun hrs lewat cara sogok menyogok, menggadaikan kebun sawitnya demi selembar SK CPNS & baju seragam kuning tua yg dg bangga dikenakan anaknya, hehe..
    miris…miris…

    Balas

    • ya…fakta ini tidak bisa dipungkiri. pekerjaan formal berseragam masih menjadi idola. padahal, kita yang berseragam pingin jadi pekebun dan pemilik usaha seperti mereka itu. it is about the mind set and the entrepreneurship spirit….

      Balas

      • yup!! bener bangeet…
        untuk apa berseragam tp uangnya pas2-an dan tergantung tanggal (tgl muda/tua) hehe..

        tp kl PNS dosen beda lagi ya Pak..biasanya gak ada seragamnya koq, palagi yg sdh doktor wad duhhh… two thumbs up !!

        Btw, adik saya yg kuliah di USU sedang ikut interviu untuk proposal kewirausahaan dr yg diajukan ke Dikti.

        kl untuk mhsw PTS belum ya Pak..??

      • itu uniknya dosen ya…btw, itu mungkin program mahasiswa wirausaha (pmw). dananya dari dikti yang dikelola oleh universitas. program ini beda dengan program kreativitas mahasiswa kewirausahaan (pkmk) karena pkmk tidak ada presentasi proposal tetapi presentasi hasil. untuk pmw pts, saya nggak tahu jadualnya, mestinya kopertis yang mengatur ya..tapi kalau pmw di ptn sudah mulai rekrutmen sejak pebruari-maret lalu. untuk pkmk, proposal bisa diajukan pada bulan oktober, kalau saya tidak salah.

  2. sekedar informasi: Asahan terkenal dengan slogan “Berlayar satujuan, bertambat satangkahan” maknanya bahwa masyarakat asahan memiliki ikatan persaudaraan yang erat. bak kata nenek saya seperti daun dan pulut.

    tapi itu sudah mulai pudar, mungkin karena persaingan dalam mencari nafkah, mungkin juga yang lain ya

    Balas

  3. RAMBATE RATA RAYA maknanya : Bekerja keras bersama-sama menuju masyarakat adil dan sejahtera

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: