Moginsidi Plaza: Plus Minus Ekonomi Second Hand Market

Monginsidi Plaza adalah suatu tempat atau pasar di samping Sei Silow kota Tanjungbalai. Nama ini diinspirasikan dari nama kawasan Jalan Monginsidi di Kota Medan yang menjadi pusat penjualan barang second hand. Kawasan ini kemudian dikenal dengan Monza yang merupakan kependekan dari Monginsidi Plaza.

Monza di kota Tanjung Balai ini merupakan pusat perbelanjaan segala bentuk baju, kaos, celana panjang, celana pendek, baju wanita, jaket, sepatu, tas dan aneka barang lainnya yang semuanya adalah barang second hand. Pengunjung yang mendatangi tempat ini bukan saja orang-orang dari kelas bawah, tetapi juga masyarakat kelas atas. Status tampaknya tidak menghalangi masyarakat untuk berkunjung dan belanja di Monza ini. Gengsi sudah tidak lagi menjadi ukuran. Bahkan, berkunjung ke Monza ini adalah suatu kebanggaan karena tempat ini adalah ikon yang cukup populer.

Monza ini fenomena ekonomi yang dilematis. Ada sisi plus dan minus dari keberadaan Monza ini. Secara ekonomi, Monza ini memiliki beberapa poin positif. Pertama, Monza ini telah menjadi gantungan hidup orang-orang lokal. Bisnis perdagangan barang bekas ini telah menjadi mata pencaharian untuk beberapa kelompok orang, mulai dari tukang pikul, penjaga toko, hingga pemilik toko. Perputaran usaha yang terjadi justru mampu mengangkat problematika ekonomi lokal tanpa harus menunggu campur tangan pemerintah. Kedua, Monza ini bisa menjadi pelumas ekonomi lokal karena operasionalisasi kawasan ini mampu menggerakkan roda ekonomi kota Tanjung Balai. Pemerintah daerah bisa mendapatkan pendapatan melalui retribusi yang pada gilirannya dapat digunakan untuk membangun daerah. Terakhir, aktivitas in akan memberikan multiplier effect pada beberapa sektor lain.  Usaha terkait, seperti makanan, akan berkembang karena pengunjung yang datang akan juga menyempatkan untuk menikmati makanan lokal.

Namun demikian, eksistensi Monza ini bisa memberikan dampak negatif secara ekonomi. Pertama, aktivitas ekonomi yang terjadi dalam kawasan ini bukan merupakan aktivitas yang dapat meningkatkan Gross Domestic Product (GDP) atau Gross National Product (GNP). Aktivitas ini bukan aktivitas produksi yang bisa dicatat sebagai komponen dalam indikator ekonomi itu. Kedua, aktivitas penjualan barang bekas ini telah mematikan beberapa potensi ekonomi pada sektor terkait. Penjualan barang bekas telah menyusutkan industri bahan pakaian dan  mematikan usaha konveksi. Pada level tertentu, aktivitas ini akan menyebabkan rendahnya kreativitas dan produktivitas masyarakat sekitar. Ketiga, aktivitas impor barang bekas ini akan menganggu pandangan terhadap bangsa ini karena Monza ini bisa dikatakan sebagai “keranjang sampah” bagi produk-produk bekas negara tetangga.

Terlepas dari segala plus dan minusnya, Monza telah menjadi monumen ekonomi di kawasan terluar dari Sumatera Utara ini. Suka atau tidak, monumen ini telah tertanam dalam benak anak bangsa di kawasan ini.

3 responses to this post.

  1. Pak, dikoreksi sedikit ya..yg benar itu Sei Silau (Sungai Silau), kl silow itu cara membacanya saja.

    Monza sering disebutkan “monja”, artinya MOhoN diJAhit, atau MOhon JAngan lupa dicuci & disetrika dulu sebelum dipakai, hehe..
    karena biasanya pakaian2 monja itu didapati tidak selalu dalam keadaan sempurna, ada yg robek sedikit, sudah berkerut, dan lain2.

    jd pingin hunting keset kaki branded nih ke T. Balai, kabarnya br datang dr Hongkong, masih baru, limited edition lg, hehe..

    Balas

  2. Pak, setahu saya yg benar itu Sei Silau (Sungai Silau), kl Sei Silow cara membacanya saja.

    Monza itu lebih sering disebut monja, kepanjangannya MOhoN diJAhit atau MohoN JAngan lupa dicuci dan disetrika dulu sebelum dipakai, hehe..
    Krn biasanya pakaian atau barang2 yg didapati tidak selalu dalam keadaan sempurna, ada yg robek sedikit atau kusut sekali, sehingga muncullah plesetan seperti itu.

    Jd pingin hunting keset kaki branded ke T. Balai, kabarnya br datang dr Hongkong, masih baru dan limited edition lagi, hehe…

    Tks. Tulisannya bagus, Pak.

    Balas

    • saya baca tulisan Sei Silow itu di rumah makan pinggir sungai itu. saya pikir itu ejaan yang benar. ini kesalahan tipikal ya. lha wong orang yang berpendidikan saja bisa menuliskan “ibuk” untuk “ibu”. by the way, thanks for the comments.

      Hadi Paramu Faculty of Economics Jember University http://www.hadiparamu.wordpress.com

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: