Untuk Apa Kuliah ? (2)

Saya pernah mengajak mahasiswa di kelas saya untuk berhitung secara ekonomi tentang keputusan untuk kuliah. Dalam analisis ekonomi, ada konsep sederhana dan sangat aplikatif yang bisa dijadikan dasar atau pijakan untuk menentukan apakah keputusan berkuliah itu tepat atau tidak. Konsep tersebut adalah konsep marginal analysis (analisis marjinal). Sederhananya, marginal analysis mengatakan bahwa suatu keputusan (atau tindakan) akan dikatakan tepat untuk diambil (dilakukan) jika marginal revenue sama dengan atau lebih besar dari marginal cost dari keputusan atau tindakan tersebut. Margnal revenue adalah manfaat tambahan yang dapat diperoleh dari keputusan atau tindakan yang akan diambil sedangkan marginal cost adalah biaya tambahan yang akan dikeluarkan untuk melakukan keputusan atau tindakan tersebut.

Dengan kerangka konsep ini, saya mencoba mengajak para mahasiswa untuk mengaplikasikan konsep marginal analysis ini. Dengan menggunakan asumsi harga yang berlaku pada waktu diskusi dilakukan, saya dan para mahasiswa menghitung marginal cost dari keputusan berkuliah. Marginal cost tersebut diklasifikasikan mulai dari biaya pendidikan (SPP), pengeluaran pembelian buku dan fotokopi, biaya hidup, dan biaya-biaya lainnya selama masa perkuliahan. Alhasil, dengan perhitungan cepat dan general dan dengan berasumsi bahwa perkuliahan program sarjana diselesaikan dalam lima tahun, total biaya yang dikeluarkan adalah Rp 52 juta. Biaya ini adalah marginal cost. Biaya ini akan dikeluarkan jika keputusan kuliah diambil dan sebaliknya tidak akan dikeluarkan jika keputusan kuliah tidak diambil.

Selanjutnya, saya menanyakan kepada mahasiswa apa atau berapa marginal revenue dari keputusan untuk berkuliah. Jawaban mahasiswa sangat bervariasi, mulai dari yang terukur secara finansial hingga yang tidak. Marginal revenue yang terukur yang biasanya dijadikan jawaban adalah gaji pertama setelah lulus. Mahasiswa saya menyebutkan sejumlah angka gaji tertentu sesuai dengan standar gaji pertama bagi seorang lulusan (sarjana). Jika diasumsikan bahwa seorang sarjana bisa langsung mendapatkan (atau menciptakan) pekerjaan setelah ia lulus, maka ia bisa bergaji Rp 1.500.000,- (minimal). Bisa dibayangkan bahwa investasi pendidikan Rp 52 juta akan setara dengan marginal revenue (bersih) dalam beberapa puluh bulan kedepan. Asumsikan, si sarjana ini bisa menabung Rp 200.000 per bulan, marginal revenue akan sama dengan marginal cost setelah 260 bulan. Angka ini jauh melebihi masa studi yang hanya 60 bulan. Belum lagi, seorang sarjana baru membutuhkan waktu tunggu untuk mendapatkan pekerjaan pertama.

Marginal revenue yang tidak terukur oleh satuan moneter yang menjadi jawaban mahasiswa adalah ganjaran pahala karena menuntut ilmu adalah ibadah. Saya tidak menyanggah jawaban ini. dan, kalau dikonversi menjadi satuan moneter, ganjaran ini bernilai sangat tinggi hingga digit mata uang rupiah sudah tidak bisa mewakili lagi. Namun, bagi seorang yang sekuler,  benefit ini hanya bisa didapatkan setelah yang melakukan proses belajar meninggal dunia dan benar-benar masuk surga. Sekali lagi, ada masa tunggu yang amat panjang untuk merasakan benefit ini.

Lalu, bagaimana idealnya marginal revenue dirumuskan ? Secara konseptual, suatu keputusan atau tindakan tersebut memberikan immediate benefit yang tidak terlalu lama dari saat keputusan atau tindakan tersebut dilakukan. Ibarat seorang yang melakukan investasi, pendapatan investasi diharapkan dapat dinikmati segera.  Dalam konteks keputusan kuliah, benefitnya harus bisa dirasakan segera pada saat kuliah atau setelah lulus. Tentunya, pada banyak kasus, benefit seperti ini lebih bersifat non moneter (kualitatif). Apa benefit itu?

Menurut pendapat saya, benefit itu adalah pola pikir. Marginal revenue dari keputusan adalah pola pikir yang jika diukur dengan satuan moneter nilainya tak hingga. Andai saja, setiap kali berkuliah (tidak perlu menunggu sampai lulus menjadi seorang sarjana), seorang mahasiswa mendapatkan inspirasi pola pikir baru, dia sudah mendapatkan marginal revenue dari keputusannya berkuliah. Kembali ke konteks marginal analysis, keputusan untuk berkuliah akan menghasilkan marginal revenue (yang nilai finansialnya tak hingga) yang (jauh) lebih besar daripada marginal cost. Dengan demikian, keputusan untuk berkuliah dapat dikatakan layak. Sebaliknya, kalau dalam proses berkuliah tidak teraih pola pikir baru, marginal revenue akan lebih kecil daripada marginal cost yang berarti keputusan untuk berkuliah tidak layak untuk dilakukan.

Sepertinya, tidak ada alternatif lain lagi bagi para mahasiswa kecuali mendapatkan pola pikir baru selama berkuliah. Ini adalah tuntutan agar keputusan menjadi mahasiswa bukanlah keputusan yang salah. Lalu, bagaimana pola pikir baru ini didapatkan ? Saya akan tuliskan, Insya Allah, pada seri berikutnya. Stay tune.

Tulisan terkait:

Untuk Apa Kuliah ? (1)

5 responses to this post.

  1. Posted by as sa'diyah on September 11, 2011 at 6:43 am

    siiip

    Balas

  2. Posted by ino on Oktober 6, 2011 at 10:40 am

    terima kasih pak , tulisan bapak memberikan inspirasi bagi saya untuk mengembangkan diri.

    Balas

  3. Maka dr itu tidak sepantasnya kalo mahasiswa kuliah hanya untuk main2,,, dan hanya sekedar formalitas untuk mendapatkan gelar sarjana…

    Balas

    • betul…gelar itu bisa didapatkan dari mana saja. dan pada tingkat tertentu, gelar itu tidak penting lagi. tetapi, kalau kuliahnya beneran, maka tidak gelar sarjana saja tetapi juga mindset yang sekelas seorang sarjana.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: