Ekonomi Lebaran

Fenomena lebaran Idul Fitri merupakan even tahunan yang bisa dijadikan contoh bagaimana suatu perekonomian bergerak. Fenomena ekonomi dari lebaran diawali oleh sirkulasi uang yang bertambah secara signifikan mulai seminggu sebelum lebaran tiba. Instansi pemerintah dan swasta mulai membagikan Tunjangan Hari Raya (THR) pada periode tersebut. Bahkan, Kemanekertrans menghimbau agar entitas perusahaan membayarkan THR ini jauh sebelum lebaran tiba.

Pertambahan stok uang karena THR ini bukan satu-satunya sebab sirkulasi uang bertambah. Penyebab lain adalah penarikan dana tunai yang tersimpan di perbankan dengan rasio dua kali lipat, kurang lebih. Bertambahnya uang dalam peredaran ini menjadi pelumas baru bagi putaran roda perekonomian. Secara agregat, jumlah uang ini menyebabkan daya beli masyarakat meningkat. Berbagai komoditas dan/atau jasa yang dibutuhkan pada periode lebaran dibeli oleh masyarakat, mulai dari pakaian baru, makanan ringan/kue kering, minuman ringan/teh/kopi/sirup, daging sapi/ayam, pulsa, hingga jasa transportasi. Saking besarnya peningkatan daya beli masyarakat ini, pasar komoditas dan jasa mengalami over demand (kelebihan permintaan). Indikasi over demand bisa diamati dari padatnya pasar tradisional, super market/hypermarket, mall, terminal bis, stasiun kereta api, pelabuhan laut, dan pelabuhan udara pada periode seminggu sebelum dan seminggu sesudah lebaran.

Secara teoretis, peningkatan demand ini bisa menjadi blessing dan sekaligus problem dalam perekonomian. Dari sudut pandang “blessing”, peningkatan demand pada berbagai komiditas ini mendorong peningkatan supply (produksi) berbagai komoditas. Produsen akan semaksimal mungkin meningkatkan produksi mereka untuk memanfaatkan peningkatan demand musiman ini. Hal ini akan mendorong pertumbuhan produksi dan ekonomi secara agregat (meskipun bersifat sementara atau jangka pendek). Dari sudut pandang “problem”, overdemand akan menyebabkan demand pull inflation (inflasi yang dipicu oleh permintaan). Bisa diamati, semua harga komoditas yang dibutuhkan dalam kaitannya dengan perayaan lebaran naik.

baca juga: Ekonomi Lebaran 2

4 responses to this post.

  1. Posted by Mutiara Ulya on September 11, 2012 at 4:20 am

    assalamualaikum, Pak Hadi.

    yang ingin saya tanyakan berkaitan dengan artikel diatas.
    “jika pendapatan dari masyarakat bertambah, apakah mungkin jika situasi musiman ini berubah menjadi tidak musiman? dan apa dampak yang akan terjadi setelahnya? merugikan atau mengutungkan bagi ekonomi Indonesia?

    terima kasih

    Balas

    • sifat musimannya tidak bisa dikendalikan dari income. sifat itu adalah budaya masyarakat. bisa jadi, meskipun income meningkat, pola demand terhadap beberapa komoditas tersebut bersifat musiman (alias karena perayaan idul fitri).
      jika income bertambah, ini bisa menguntungkan bagi ekonomi Indonesia. perkembangan ekonomi bahkan diukur dengan pertumbuhan income ini (baca: gross domestic product atau gross national product). ok…

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: