Mengupah Upah Calon Jemaah Haji

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan untuk menikmati acara adat “mengupah-upah” untuk menghantarkan kepergian salah seorang calon jemaah haji di Kisaran, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Acara adat ini sangat unik karena saya belum pernah menjumpainya selama ini.  Yang saya tahu hanya acara walimatul hajj yang dalam kesempatan itu si calon jemaah haji berpamitan kepada seluruh undangan dan meminta doa agar perjalanan ibadah hajinya bisa diberikan kemudahan, kelancaran, hingga bisa menjadi haji yang mabrur. Mengupah-upah ini juga begitu esensinya, tetapi saya merasakan ada yang unik disitu.

Menurut orang setempat, acara mengupah-upah dilakukan secara spontan oleh serombongan orang tertentu, misalnya teman kerja di kantor. Adat kebiasannya, acara mengupah-upah ini harus merupakan surprise untuk si tuan rumah (calon jemaah haji). Sebisa mungkin, tuan rumah dibuat terkejut dengan adanya kunjungan rombongan yang akan melakukan upah-upah ini karena ia tidak pernah diberitahu perihal kunjungan mengupah-upah ini. Untuk memastikan bahwa si tuan rumah berada di rumah saat acara tersebut, seorang liason  yang mengemban misi ‘rahasia’ dikirimkan ke rumah yang mau diupah-upah. Liason ini akan memastikan apakah pada jam yang ditentukan tuan rumah ada di rumahnya. Tugas liason ini bisa dilakukan satu atau dua jam sebelum jam kunjungan.

Bekal yang dibawa oleh rombongan ada dua, yaitu balai (dibaca bale, mudah-mudahan ini ejaannya sudah benar) dan buah tangan lainnya dari anggota rombongan (seperti sarung atau semacamnya).  Balai ini menyerupai sebuah pot bunga dari kayu yang berkaki empat yang diisi dengan pulut (beras ketan) berwarna putih. Pada pot tersebut, tanaman buatan yang berdaun putih, berbunga putih, dan berbuah telur di setiap cabangnya ditancapkan.

Rombongan kemudian bergerak bersama-sama menuju rumah sasaran. Dalam rombongan tersebut, juru bicara dan pembawa acara sudah ditentukan. Pembawa acara akan mengatur jalannya acara sedangkan juru bicara akan menjadi perwakilan rombongan untuk menyampaikan titip pesan dan doa bagi calon jemaah haji.  Peran kedua orang ini yang menyebabkan suasana menjadi tidak seperti biasa, lebih formal, lebih sakral, dan lebih mengharukan.

Inti acara upah-upah adalah untuk saling mendoakan dan menghalalkan. Si tuan rumah sebagai orang yang akan berangkat ke tanah suci memohon agar semua kesalahan dimaafkan dan jika ada utang-piutang segera diselesaikan segera. Ini semua dilakukan agar langkah  tuan rumah diringankan dan dilancarkan sehingga ritual ibadah haji bisa dilaksanakan dengan baik dan sempurna. Sebagai simbol untuk saling menghalalkan ini, balai diserahkan kepada tuan rumah.

Setelah acara seremonial dan sambutan dari kedua pihak disampaikan, secara bergantian anggota rombongan bersalaman dan mengucapkan doa selamat melaksanakan ibadah haji kepada tuan rumah. Setelah semua anggota rombongan bersalaman, acara santai digelar dengan menikmati pulut yang dikemas dengan pemanis secara bersama-sama. Semua acara ini tidak lebih dari satu jam saja.

3 responses to this post.

  1. Posted by Ardiyanth Rizky on Oktober 29, 2011 at 11:00 am

    inilah adat isitiadat orang batak pak

    Balas

  2. itu adat melayu Pak…adat batak lain lagi…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: