Konsistensi Antara Tujuan dan Metode Analisis Data

Benang merah pada yang harus secara kentara didemonstrasikan adalah konsistensi antara tujuan penelitian dan metode analisis data. Kedua bagian ini harus didesain sebaik dan sedetail mungkin sehingga  tujuan penelitian bisa dipastikan bisa dijawab dengan metode analisis data. Secara umum, meskipun ini bukan aturan main yang baku , jumlah tujuan penelitian akan mencerminkan jumlah tahap dalam metode analisis data. Jika ada dua tujuan penelitian yang  akan dicapai, maka metode analisis data harus didesain menjadi dua tahapan, dan seterusnya. Dengan demikian, jumlah poin dalam tujuan penelitian akan selalu sama dengan jumlah tahap dalam metode analisis data.

Sebagai contoh, seorang peneliti mempunyai  tujuan penelitian untuk (a) mengidentifikasi kluster usaha yang terbentuk berdasarkan karakteristik manajerialnya pada agroindustri perikanan di suatu kabupaten dan (b) merekomendasikan strategi pengembangan pada masing-masing kluster yang terbentuk. Nah, pada konteks ini, metode analisis data akan terbagi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah tahap untuk mengidentifikasi kluster usaha dan tahap kedua adalah tahap untuk merekomendasikan strategi. Teknik analisis data yang digunakan pada masing-masing tahap bisa berbeda (meskipun pada kasus tertentu, ada satu teknik analisis data yang bisa mencapai dua tujuan sekaligus).

Meskipun secara sepintas, benang merah ini seolah mudah sekali untuk dituliskan dalam suatu proposal, tidak jarang penyajian metode analisis data  tidak membentuk benang merah. Salah  satu praktek yang sering dilakukan adalah menyusun metode analisis data sebagai suatu set kompilasi rangkaian tahapan analisis data. Subbab metode analisis data hanya diisi daftar alat analisis yang akan digunakan dan tidak dikaitkan dengan tujuan penelitian.

Bagaimana mengatasi situasi ini? Penulis proposal seharusnya  menyisipkan kalimat pengantar yang mendeskripsikan apa yang akan dicapai jika urutan analisis data diaplikasikan. Dalam konteks contoh pada paragraf  kedua dalam narasi ini, si penulis tidak hanya menuliskan urutan kerja dalam analisis kluster dan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) begitu saja. Namun, si penulis menuliskan kalimat sebagai berikut “Analisis data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua kelompok, yaitu analisis kluster dan analisis SWOT. Analisis kluster dimaksudkan untuk mengindentifikasi kluster usaha berdasarkan karakteristik manajeria  dan analisis SWOT dimaksudkan untuk merumuskan strategi pengembagan untuk masing-masing kluster yang terbentuk. Berikut ini adalah detail dari metode analisis data tersebut…”. (kalimat semacam ini bersifat subyektif, bisa saja cara penyajian yang berbeda digunakan dalam konteks ini). Intinya, penulis sebaiknya menghindari susunan yang merupakan kompilasi alat analisis, tetapi lebih mengedepankan keterkaitan antara alat analisis dan tujuan penelitian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: