Jember Khas: Gladag

Seperti kota-kota lainnya, kota Jember juga mempunyai kekhasan tertentu. Salah satunya adalah kekhasan lokasi yang diinspirasikan dari nama jembatan. Dalam bahasa dialek njemberan, jembatan disebut sebagai gladag.Setidaknya ada lima gladag yang bisa dikatakan seb agai ikon kota ini, yaitu Gladag Kembar, Gladag Jompo, Gladag Semanggi, Gladag Tjakol, dan  Gladag Pakem.

Dinamai Gladag Kembar karena gladag tersebut dulu dikembangkan dua bersandingan sekaligus. Ada gladag dibangun untuk jalur lalulintas dari utara ke selatan dan satu gladag untuk jalur sebaliknya.Sebenarnya, pada awalnya gladag ini tidak kembar karena sisi yang satu lebih lebar. Saat ini, gladag ini sudah tidak tampak “kembar” (alias kedua sisi mempunyai luas yang sama) karena mengalami perbaikan sesuai dengan kemajuan dan kebutuhan daerah. Gladag ini  dibangun  diatas aliran sungai Bedadung (sungai terbesar dan terpanjang yang membelah kota ini).

Gladag Jompo adalah jembatan diatas sungai Jompo (huruf ‘O’ pada kata ini dibaca seperti huruf ‘O’ pada ‘motor’). Nama gladag ini identik dengan nama Kali Jompo dimana gladag ini melintangi. Gladag ini terletak ditengah kota dan pusat keramaian kota Jember. Sayangnya, pada era sekarang ini, generasi muda mungkin tidak mengenali dimana gladag ini berada karena di sisi gladag ini telah dibangun pusat  pertokoan yang menutupi pemandangan sungai Jompo. Gladag ini terletak di jalan Raya Sultan Agung (Rasulta).

Gladag Semanggi adalah gladag yang menghubungkan wilayah tengah kota dengan wilayah kampus. Sebelum Gladag ini dibangun, masyarakat menggunakan sarana rakit untuk menyeberangi sungai Bedadung. Gladag ini dinamai semanggi karena ada mirip dengan ‘semanggi’ yang di ibukota negeri kita. Dibawah gladag ini terdapat viaduk (jalan dibawah jembatan). Sejak pembangunannya, gladag ini telah mengalami sekali renovasi.

Gladag Tjakol sebenarnya bukan gladag yang sebesar dua gladag sebelumnya. Gladag ini populer sebagai nama tempat dibandingkan dengan fungsi gladagnya. Wilayah ini populer, salah satunya,  untuk ibu-ibu rumah tangga yang tidak sempat memasak untuk makan siang. Di wilayah ini, berbagai menu makan siang rumahan yang bisa di-take out. Mengapa gladag yang berlokasi di Kebonsari ini diberi nama “tjakol” belum ada yang menjelaskan.

Gladag Pakem mirip seperti gladag sebelumnya. Gladag ini lebih populer dikenal sebagai nama wilayah dibandingkan fungsinya. Sebagian dari penduduk kota ini juga tidak mengetahui secara persis dimana Gladag Pakem berada. Nama gladag ini kemudian dikenal sebagai wilayah kota di ujung selatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: