Jember Khas: Lin

Istilah “Lin” digunakan oleh masyarakat Jember untuk menyebut angkutan kota. Istilah ini terbilang salah kaprah karena sebenarnya “Lin”sebenarnya merujuk pada jalur atau trayek. Tapi, karena masyarakat yang memopulerkan, isitilah ini kemudian lebih enak didengar  oleh telinga wong  Jember dibandingkan nama “angkot” (seperti yang digunakan pada banyak kota lainnya) atau bemo (istilah angkot di Surabaya).“Lin” di kota Jember tidak dibedakan dengan warna, alias semua “Lin” berwarna kuning. Tapi, “Lin” dibedakan dengan kode huruf, yaitu A, B, C, D, E, G, H, K, N, O, P (mungkin ada jalur lainnya yang belum disebut disini) . Huruf-huruf ini tidak merepresentasikan titik tempat keberangkatan atau titik tempat tujuan.  Huruf-huruf tersebut adalah penanda jalur.

“Lin” di kota Jember tidak saja menghubungkan terminal angkutan antar kota utama, terminal Tawangalun, dan terminal angkutan angkutan antar kota pembantu, yaitu terminal Arjasa (menuju kota di sebelah utara Jember), terminal Pakusari (menuju kota di sebelah timur Jember), dan terminal Ajung (penghubung ke wilayah selatan Jember). Namun, ada “Lin” juga menghubungkan  terminal dengan kawasan pemukiman, seperti perumnas Patrang dan wilayah Gladag Pakem.

Uniknya lagi, “Lin” ini bisa menerapkan tarif premium di malam hari untuk mengantarkan penumpang dengan tempat tujuan yang di luar trayek. Tarif premium ini tidak dipermasalahkan oleh penumpang. Justru, penumpang merasa terbantu karena pada malam hari tidak banyak transportasi dalam kota yang tersedia lebih murah dari tarif premium itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: