Rejeki Siapa ?

Suatu siang saya bertemu dengan seorang teman yang memberikan pelajaran tentang kehidupan dan keimanan kepada Allah. Pelajaran itu mengalir begitu saja bak cerita yang berkisah seperti berikut ini.

Seseorang mengadakan hajatan atau selamatan atau sedekahan dengan menjamu makan puluhan atau ratusan orang. Seseorang mentraktir temannya. Seseorang membelanjakan hartanya di jalan kebaikan. Lalu, apa yang kita pikirkan tentang seseorang yang memberi dan yang diberi?

Untuk orang yang diberi, barangkali kita bisa sepakat bahwa itu adalah rejeki dia dari Allah. Bahwa dia berjalan kaki siang hari yang sinar matahari terik menerpanya untuk berjalan menuju warung makan. Dan setelah makan dan mau membayar makanan, seorang teman malah mentraktirnya. Ini mudah dipahami sebagai rejeki dari Allah untuk orang yang ditraktir tersebut.

Untuk orang yang memberi, kita harus berhati-hati. Orang itu adalah orang yang ditugaskan Allah untuk menyampaikan rejeki si yang diberi.  Apakah orang tersebut akan berkurang hartanya ?

Subhanallah, ini ilmu yang saya dapat dari kuliah singkat ini. Rejeki orang yang memberi tidak akan dan tidak pernah berkurang dari takarannya. Kedua, rejeki orang yang diberi itu bukan berasal dari rejeki orang yang memberi. Rejeki itu dari Allah. Kedua orang ini mendapatkan rejeki dari Dia. Dan, Dia maha kaya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: