Helicopter View

Ada apa dengan Helicopter View ? Secara leksikon, helicopter adalah helikopter (atau pesawat terbang yang mirip capung) dan View adalah pandangan, pemandangan. Jika dirangkaikan sebagai satu kesatuan, helicopter view adalah pandangan dari helikopter. Helicopter view adalah melihat pemandangan dibawah dari atas sebuah helikopter. Sebagaimana kita mengetahuinya (meskipun kita belum pernah menaikinya), helikopter adalah jenis kendaraan yang bisa terbang dan berdiam pada titik ketinggian tertentu selama waktu tertentu. Pada titik itu, siapa saja yang berada di dalam helikopter tersebut akan bisa memandang ke bawah dan mendapati bahwa pemandangan di bawah itu merupakan suatu rangkaian berbagai komponen, seperti hutan, pemukiman, kompleks perkantoran, pusat perbelanjaan, sekolah/perguruan tinggi, dan lain-lain, yang terangkai sangat indah. Pemandangan ini hanya bisa dinikmati dari atas, via helicopter view.

Lalu, apa yang penting dari helicopter view ini ? Saya sering mengajak mahasiswa saya untuk menggunakan pengalaman helicopter view ini dalam proses menuju end point, yakni menjadi seorang sarjana. Saya mengajak mahasiswa saya untuk menerapkan proses belajar ala helicopter view. Saya pikir helicopter view ini bisa menjadi solusi ketika mahasiswa (termasuk kal a saya masih duduk di bangku kuliah) tersesat dalam belantara ilmu atau kurikulum.

Bagaimana seorang mahasiswa bisa tersesat dalam belantara ilmu ? Saya menggunakan istilah tersesat sebagai alias dari ketidakpahaman mahasiswa terhadap keterkaitan antar  matakuliah dalam kurikulum. Ketidakpahaman atau ketersesatan ini muncul karena dua sebab menurut hemat saya. Pertama, mahasiswa tidak mampu merangkaikan matakuliah dalam kurikulum sebagai satu kesatuan. Mahasiswa tidak bisa merajut puzzle menjadi satu sehingga tergambar suatu “view” tertentu. Mahasiswa hanya menganggap matakuliah sebagai keping-keping puzzle yang tepinya berbentu tidak karuan. Mahasiswa ini tidak tahu what to do dengan keping-keping ini. Alhasil, setelah jadi seorang sarjana, mahasiswa ini tidak tahu apa yang telah dia kuasai, kompetensi apa yang dia seharusnya miliki sehingga dia ini kemudian merasa menjadi seorang sarjana yang tidak bisa apa-apa. Kedua, mahasiswa tersesat karena memang dia tidak paham dengan apa yang sedang dipelajarinya. Mahasiswa kelompok ini sudah tersesat sejak awal karena dia sudah tidak sepenuhnya menaruh hatinya pada suatu matakuliah. Dia membiarkan ketidakpahamannya pada suatu matakuliah, asalkan dia bisa lulus (atau lolos?) dari matakuliah tersebut. Kelompok in yang sering dikatakan sebagai kelompok yang “tidak tahu kalau dirinya tidak tahu”. Alhasil, mahasiswa kelompok ini tidak saja tidakbisa merangkaikan keping-keping puzzle yang dipegangnya tetapi malah menganggap puzzle itu sebagai bentukan yang tidak menarik dan tidak ada gunanya.

Nah, apa yang harus dilakukan oleh mahasiswa yang tersesat ini ? Saya menyodorkan solusi helicopter view. Caranya adalah dengan terbang dan melihat dari atas apa yang sudah dipelajari. Cara ini berlaku baik untuk mereka yang tersesat merangkaikan matakuliah dalam kurikulum maupun yang tidak paham dengan matakuliah yang dipelajarinya. Dengan sering-sering memandang dari ketinggian atau helicopter view, keterkaitan antar matakuliah ataupun topik dalam suatu matakuliah itu akan terlihat. Saya menyarankan agar mahasiswa sering melakukan helicopter view. Kalau toh dia belum mendapatkan gambaran pemandangannya, jangan  berputus asa untuk melakukan helicopter view lagi. Barangkali, untuk memudahkan helicopter view, ajaklah orang yang berpengalaman dan kompeten untuk melakukan helicopter view.Teknik ini akan membantu untuk menunjukkan di belantara ilmu apa kita sekarang ini. Dari ketinggian itu, mahasiswa akan tahu bahwa apa yang telah dipejarinya tidak berdiri sendiri. Ibarat melihat hutan dari ketinggian helikopter, mahasiswa dapat melihat bahwa hutan itu tidak terdiri atas satu macam tanaman saja, melainkan ada tanaman lainnya yang menghias indah hutan tersebut. Selamat mencoba.

3 responses to this post.

  1. Posted by HadIp on Maret 22, 2012 at 7:16 am

    Nice post Sir, like the problems I facing now…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: