UKM (tidak) Perlu Berpengetahuan Marketing ?

Beberapa minggu yang lalu saya mendatangi sebuah perusahaan jasa penjahitan baju. Saya membawa selembar bakal baju berbahan batik khas Jember. Saya mendatangi perusahaan ini karena seorang teman memberikan penilaian positif terhadap hasil jahitan bajunya. Saya menganggap penilaian positif ini sebagai rekomendasi positif. Singkatnya, saya berani mencoba karena efek word to mouth promotion ini.

Seperti biasanya, si penjahit, yang saya duga adalah pemilik dari usaha ini, langsung melakukan body fit dan mencatat hasilnya pada log booknya. Tidak lupa dia menanyakan perihal model baju. Say a memesan model baju lengan pendek  dengan kancing baju yang tertutup. Setelah selesai body fit, saya menerima sebuah kuintansi dari si penjahit tersebut dan saya pun membayar lunas ongkos jahitnya. Dia meminta saya untuk kembali lagi untuk mengambil hasilnya seminggu kemudian.

Tujuh hari berikutnya saya mendatangi perusahaan jasa ini. Sayangnya, saya harus menyimpan kecewa yang pertama. Pintu harmonika perusahaan ini tertutup. Saya sempat mengintip bagian dalam ruangan. Saya melihat lampu ruangan menyala. Saya ketuk pintu besi itu dengan batang kunci kendaraan yang saya bawa. Ternyata, tidak ada respons sama sekali. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang.

Dua hari kemudian saya kembali mendatangi perusahaan jasa ini. Lagi, saya harus menyimpan kecewa yang kedua. Pintu harmonika perusahaan ini terbuka. Yang ada di dalam ruangan hanya seorang pegawai yang membantu menjahit. Saya menyodorkan kuintansi pengambilan baju kepadanya. Ternyata, baju belum selesai dijahit dan bahkan kain batik itu belum diapa-apakan. Dia  mengatakan bahwa si empunya sedang pergi keluar kota seminggu ini dan baru balik esok hari.  Saya lalu dengan bersabar menanyakan kapan baju saya selesai. Si pegawai  menyebut waktu enam hari lagi!

Saya tidak habis berpikir dengan ‘keberanian’ si pemilik perusahaan untuk mengabaikan hak seorang konsumen. Dia menganggap bahwa konsumen yang membutuhkan dia. Toh, kain yang dibawa konsumen dan ongkos kerja yang sudah terbayar berada di sisi dia. Dengan kata lain, dia pada posisi tawar yang bagus karena pasti konsumen akan kembali lagi untuk mengambil baju yang dipesannya.

Saya hanya menduga bahwa si penjahit ini merasa hasil kerjanya sudah super, the best, tidak ada tandingannya. Dengan demikian, dia merasa memegang monopoly power sehingga dia  bisa bekerja seenaknya. Tapi toh, dugaan saya ini bisa salah dan di sektor jasa penjahitan baju ini monopoly power tidak mudah memperolehnya. Seandainya, monopoly power benar dimilikinya, menghormati hak konsumen adalah suatu tindakan terpuji.

Lalu, saya memberanikan diri untuk melakukan over-generalization: kalau semua perusahaan sejenis ini, dengan skala Usaha Kecil dan Mikro (UKM),tidak memahami konsep marketing ini (dalam hal ini memuaskan konsumen), apa kata dunia!! Mudah-mudahan sangkaan saya tidak benar. Mudah-mudahan UKM telah menyadari pentingnya kepuasan dan hubungan baik dengan konsumen, Mudah-mudahan yang saya alami ini adalah ketidaksengajaan dan sampling error sebagai sebuah pengamatan. Mudah-mudahan UKM merasa perlu berpengetahuan marketing dalam memajukembangkan usahanya. Mudah-mudahan kata ‘(tidak)’ dalam judul  memang perlu dihapus.

4 responses to this post.

  1. wah…pengusaha UKM sepertinya memang perlu memiliki pengetahuan marketing, ya pak. setali tiga uang dengan pengalaman pak hadi, saya sudah dua mingguan ini bolak-balik ke penjahit tp hasilnya nihil. alasan penjahitnya banyak sekali. kesimpulan saya untuknya, kalau hasil jahitan itu sudah jadi, saya tidak akan pernah kembali lagi ke sana alias kapok!

    seperti biasa, tulisan bpk selalu menambah wawasan bagi saya. tks ya pak.

    Balas

    • ya itu fenomenanya. kontribusi mereka sebenarnya sangat penting dalam ekonomi nasional. mudah-2an, ini betul sampling error. hanya suatu kebetulan ada satu ukm di jember dan satu lagi di asahan yang tidak care dengan customer satisfaction. mudah-2an, yang lain tidak begitu.

      Balas

  2. permisi Pak, saja ikut komen.
    saya juga pernah mengalami hal yang serupa (di Banyuwangi). sebenarnya bukan saya, tapi mama saya.
    saat itu mama membawa bakal baju ke penjahit yang tidak jauh dari rumah, penjahit tsb sudah meng-iya-kan kalau baju itu akan selesai sebelum lebaran,,
    saat H-7 saya ke sana untuk menganbil baju, ternyata sama sekali belum di kerjakan. H-3 saya ke sana lagi,, tetap seperti sebelumnya. saya pulang dengan tangan kosong. alhasil.. mama saya tidak bisa lebaran dengan baju yang di idamkan.

    menurut saya juga, UKM memang harus berpengetahuan marketing untuk menjaga kepercayaan konsumen.
    mungkin juga perlu ada semacam pelatihan yang diadakan untuk menyampaikan betapa pentingnya pelayanan terhadap konsumen.
    apa itu mungkin untuk diadakan?

    Balas

    • pelatihan semacam itu perlu diselenggarakan. mungkin tidak perlu pelatihan yang bertele-tele tetapi sangat praktis. bisa jadi, mereka melakukan itu karena belum mempunyai knowledge-nya. kita sebagai orang yang berpengetahuan marketing, bisa saja memberikan share knowledge itu…

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: