Seputar BBM: Rekayasa Supply

Pemerintah kembali menunda upaya pembatasan konsumsi BBM untuk mobil ber-cc besar. Pelaksanaan ide pembatasan tersebut ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan. Ini adalah alasan alias. Sebenarnya sama saja kalau pemerintah mengatakan bahwa upaya itu dibatalkan untuk dilaksanakan. Ada lima langkah yang diputuskan sebagai pengganti (Jawapos, Jumat 4 Mei 2012, Pembatasan BBM Subsidi Ditunda, halaman 20), yaitu (1) kendaraan dinas pemerintah dilarang menggunakan BBM bersubsidi, (2) kendaraan untuk pertambangan dan perkebunan tidak diperbolehkan menggunakan BBM bersubsidi (alias menggunakan solar), (3) konversi dari BBM ke BBG, (4) PLN dilarang menggunakan pembangkit baru berbasis BBM (tetapi batubara atau energi terbarukan lainnya), dan (5) penghematan listrik dan air di gedung pemerintah.

Secara teknis, kelima langkah itu tidak sulit diimplementasikan karena semuanya adalah inisiatif pemerintah. Dengan kata lain, peran pemerintah sangat dominan dalam melaksanakan rencana tersebut. Pemerintah memang bermain didomainnya sendiri dalam hal ini.

Secara teknis, sulit untuk mengatur pasar BBM dari sisi konsumen seperti yang sejauh ini diwacanakan. Rekayasa konsumsi jangan-jangan akan menimbulkan penyimpangan baru dan biaya pengawasan yang lebih mahal sehingga penghematan subsidi tidak maksimal.

Hal belum tampak dipublikasikan secara lebih luas dalam kaitannya dengan soal BBM ini adalah rekayasa dari sisi supply di pasar. Barangkali, persoalan BBM bersubsidi ini akan lebih cepat diselesaikan jika sisi supply diatur pula. Misalnya saja, SPBU dalam kota dan SPBU baru tidak lagi dipasok BBM bersubsidi.  Sebagai pilot project, upaya ini bisa saja diterapkan di wilayah kota besar terlebih dahulu.

Dengan cara rekayasa supply ini, konsumen akan dibatasi preferensinya. Mereka suka atau tidak suka akan mengkonsumsi BBM non subsidi. Selama masih ada dua macam BBM, yaitu BBM subsidi dan non subsidi, preferensi konsumen baik yang bermobil mewah maupun tidak akan mengarah pada jenis yang pertama.

4 responses to this post.

  1. Posted by agl on Agustus 1, 2012 at 1:19 pm

    pak kalau semisal stock BBM bersubsidi di SPBU dihentikan, bisa -bisa harga kebutuhan pokok bisa naik dua kali lipat ataupun bisa lebih dikarenakan masyarakat dipaksa menggunakan pertamax yang harganya dua kali lipat dari premium..nasib masyarakat kecil nantinya bagaimana..

    Balas

    • stocknya tidak dikurangi. tetapi, harga BBMnya dinaikkan seperti yang direncanakan. harga itu tidak akan sama dengan harga pertamax. nah, sebagai kompensasi untuk masyarakat, “subsidi” dapat diarahkan untuk pembangunan infrastruktur dan lain-lain yang lebih dibutuhkan masyarakat. tapi, harga BBM dunia sudah membaik sehingga persoalannya sudah tidak begitu pelik lagi.

      Balas

  2. Posted by najib on Januari 9, 2013 at 3:40 pm

    menurut saya, akan lebih baik lagi jika daerah2 terpencil menggunakan energi alternatif lain seperti biogas dan tenaga surya. karena setahu saya, harga bbm di wilayah terpencil pun masih belum mampu dijangkau masyarakat. dengan begitu, bbm bersubsidi bisa dialokasikan ke wilayah perkotaan dan semi-perkotaan.

    Balas

    • setuju. wilayah yang diberkahi sinar matahari maksimal bisa menggunakan tenaga surya, yang punya panas bumi menggunakan energinya dan seterusnya. mungkin, infrastrukturnya yang harus disiapkan oleh pemerintah.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: