Minimarket Berjaringan versus Retail Tradisional (seri-1)

Beberapa waktu lalu, koran lokal di Jember memuat pemberitaan seputar penolakan berdirinya minimarket berjaringan di wilayah Jember sebagai headline. Pemberitaan tidak saja memuat perbedaan pendapat antara anggota dewan yang terhormat dan Bupati saja. Kedua berbeda pandangan tentang minimarket berjaringan. Anggota dewan menolak sementara Bupati menyetujui. Alhasil, keputusan Bupati ini yang berlaku karena interpelasi oleh anggota dewan pun tidak mampu menghentikan keputusan Bupati untuk tidak mengijinkan berdirinya minimarket berjaringan di Jember. Koran tersebut juga memberitakan soal penolakan kelompok masyarakat terhadap pendirian minimarket berjariangan baru.

Yang mengemuka dalam polemik tersebut adalah pendirian minimarket berjaringan dinilai secara kuantitas melebihi dari jumlah yang seharusnya sehingga operasional mereka akan menganggu dan cenderung mematikan retail tradisional di sekitarnya. Ini sebenarnya adalah logika persaingan. Secara posisi daya saing, retail tradisional tidak lebih baik dari minimarket berjaringan. Kelompok yang kontra dengan pendirian minimarket berjaringan berpikir bahwa salah satu cara untuk menghidupkan retail tradisional adalah dengan tidak memberikan ijin pendirian baru kepada minimarket berjaringan. Singkatnya, proteksi oleh Bupati sangat diperlukan sebagai bentuk keberpihakan kepada retail traditional.

Ada yang menarik untuk disimak di seputar pro-kontra minimarket berjaringan. Sejauh saya mengikuti pemberitaan itu, perspektif (sudut pandang) yang dijadikan pijakan adalah sisi produsen alias pelaku bisnis retail tradisional maupun minimarket berjaringan. Seharusnya, perspektif lain perlu dipertimbangkan, yaitu sisi konsumen. Polemik atau pro-kontra itu bisa saja membutuhkan cara penyelesaian yang berbeda jika ditelisik dari sisi konsumen. Bisa jadi apa yang menjadi kekawatiran para produsen itu bersifat antagonis dengan apa yang dibutuhkan oleh konsumen. Mengapa bisa begitu?

Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan berkaitan polemik tersebut adalah preferensi dan  perilaku konsumen. Coba kita yang mempunyai keluarga mulai memperhatikan bagaimana preferensi dan perilaku belanja pada keluarga kita. Tidak terlalu mengagetkan jika anggota keluarga lebih memilih minimarket berjaringan. Hal yang serupa juga terjadi jika kita membutuhkan sesuatu (camilan atau minuman) pada saat kita dalam perjalanan antar kota. Kita selalu berpikir untuk berhenti pada minimarket berjaringan. Biasanya, kita menyeletuk pada sopir mobil, “Pak, kalau ada In*******, berhenti sebentar, mau beli air minum…”.

Tanpa disadari, preferensi terhadap minimarket berjaringan lebih tinggi daripada preferensi terhadap retail tradisional. Pikiran konsumen sudah secara otomatis lebih “berpihak” pada retail tradisional, tidak dibuat-buat. Ini tanpa disengaja adalah suatu keunggulan yang dimiliki oleh minimarket berjaringan.  Apa yang ada dibenak konsumen telah membentuk superioritas minimarket berjaringan dibandingkan dengan retail tradisional.

Kalau ditinjau secara sekilas (tentunya, kalau mau mengkaji lebih serius, riset harus dilakukan), preferensi konsumen terhadap minimarket berjaringan tersebut bukan tidak beralasan. Atribut kenyamanan, modernitas, keramahan, dan  keleluasaan antara lain adalah alasannya. Harga memang tidak selalu lebih murah di minimarket berjaringan. Tapi, kelihatannya konsumen tidak terlalu price sensitive. Kalau toh harga mahal di minimarket berjaringan, konsumen masih  willing to buy disana.  Rasionalitas semacam ini tidak bisa dibantah, tidak bisa dipungkiri, dan harus dimengerti.

Nah, kalau perspektif konsumen ini dipertimbangkan, tidak bermaksud tidak berpihak kepada retail tradisional, eksistensi minimarket berjaringan ini bisa mengkreasi welfare untuk konsumen. Artinya, kalau saja kita berpikir untuk berpihak kepada konsumen, keberadaan minimarket berjaringan harus dijadikan tantangan, bukan lawan,  bagi retail tradisional.

11 responses to this post.

  1. Minimarket berjaringan sekarang memang menjadi sebuah trend, konsumen lebih memilih berbelanja di Modern Trade (MT) daripada di Traditional Trade (TT). Sebenarnya MT juga dibantu oleh TT. Di sebuah minimarket berjaringan dengan logo A, mereke memiliki tim kusus yang bernama SSP (store sales point) atau salesman, dimana SSP membantu MT ketika barang yg dijual di MT stocknya terlalu banyak, MT akan melemparkan barang tersebut ke TT, nahh disini MT dan TT seharusnya bisa bersinergi. Masyarakat tidak boleh serta merta menolak kehadiran minimaret berjaringan, di era sekarang persaingan sangat ketat sekali. Jika kita lihat dari sudut pandang yang lain, minimarket berjaringan bisa menciptakan lapangan kerja yang banyak. Jika minimarket berjaringan tsb bertumbuh pesat, pasti akan membuka Distribution Centre (DC) di lokasi tsb untuk mempermudah proses distribusi. Nha dari situ angka pengangguran bisa turun.

    bagaimana pendapat anda?

    Balas

    • namun, kemitraan MT dan TT seperti tersebut tidak kentara di mata masyarakat. MT perlu show-off untuk menunjukkan pola kemitraan ini. kalau diperlukan, MT bisa memasang tanda adanya kemitraan dengan TT pada toko-toko TT, misalnya dengan spanduk “toko TT ini didukung oleh MT”. thanks sudah comment pada tulisan saya ini.

      Balas

      • ke”show-off”an MT juga dibuktikan bekerja sama dengan UKM, contohnya MT memberikan teras depan untuk bisa disewa oleh UKM dan di beberapa toko minimarket berjaringan dipasang spanduk yang menerangkan turut mendukung pemberdayaan UKM.

        saya mahasiswa MM Unej (mahasiswa bapak), saya tertarik dengan pembahasan ini karena bisnis minimarket berjaringan semakin menggurita. Berkomentar di blog bapak, membuat saya ingin belajar menulis😉

      • kalau kepedulian dengan ukm memang sudah ada. tapi yang sekarang sedang diributkan adalah rivalitas dengan retail tradisional. show-off kerjasama kemitraan dengan retail tradisional perlu juga. anyway, ayo nulis bareng-bareng tentang apa saja. siapa tahu ada manfaatnya untuk orang lain.

  2. Posted by limah saja on Oktober 20, 2012 at 7:50 pm

    kalo tidk ingin terdepakdr prsaingan, retail tradisional seharusnya dapt memperbaiki manajemen pelayanannya jga. kdang di ktika kita brbelanja di retail tradisional dan kita trlalu banyak memilih, yg melayani kliatan tdak sabar sehingga kita pun trganggu dg sikap tsb.

    Balas

    • ya, retail tradisional harus memperbaiki diri untuk eksis dalam persaingan. suka atau tidak suka, pengelolaan retail tradisional harus mengacu pada minimarket berjaringan.

      Balas

  3. mungkin perlu dibuat gerakan kembali ke pasar, terutama oleh pihak akademisi, agar image pasar tradisional naik dan masyarakat bisa sadar untuk memperbaiki pasar bukan beralih ke minimarket atau malah sinis terhadap pasar tradisional.

    Balas

    • ya itu ide bagus. keberpihakan masyarakat pada pasar tradisional sangat diperlukan. tetapi, keberpihakan ini harus dibalas setimpal dengan kenyamanan dan kualitas minimarket…

      Balas

  4. menurut saya dari awal seharusnya pemerintah Kabupaten Jember menolak secara tegas, sebab ada lo Pak di kota lain (contoh : Blitar) yang sama sekali tidak ada mall atau minimarket jaringan. semua serba tradisional, tapi tetap saja produk atau jasa yang dihasilkan baik, hasilnya kan dinikmati warganya sendiri, saya merasa kasihan pada orang – orang yang sangat menggantungkan kehidupannya di sebuah toko kelontong kecil. contoh lain di glenmore (tempat asal saya) juga pendirian minimarket tidak diperbolehkan oleh para warga, karena produk2 yang dijual bisa diperoleh di pasar tradisional dan toko kecil meski kemasannya tidak sebagus di minimarket. kalau saya jadi pemerintah, saya mau contoh pemerintah kota Bitar. hehe🙂

    Balas

  5. we’ll se what the goverentment do to clean up modern retail wich bankrupting traditional retail for the welfare of Jember people.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: