Minimarket Berjaringan versus Retail Tradisional (seri-2 )

Saya terinspirasi oleh popularitas musik dangdut pada kurun waktu beberapa tahun terakhir ini untuk dijadikan sebagai model solutif untuk mengatasi rivalitas antara minimarket berjaringan dan retail tradisional. Saya menganalogikan posisi retail tradisional saat ini sebagai musik dangdut. Kiprah para pelaku di industri musik dangdut bisa direplikasi untuk menempatkan kembali musik dangdut menjadi setara dengan jenis musik populer di mata dan hati pendengar atau penikmat musik.

Jaman dulu, musik dangdut dianggap sebagai musik kelas bawah. Para penikmat atau pendengar musik ini hanya bisa ditemui di wilayah-wilayah pedesaan dan kalangan masyarakat akar rumput. Kalau toh ada penikmat musik dangdut di tempat selain wilayah dan kalangan tersebut, biasanya mereka itu tidak secara blak-blakan menunjukkannya. Hampir bisa dipastikan, kalau ada konser atau pertunjukkan musik dangdut, pasti itu di tidak dilakukan di wilayah perkotaan.

Namun, situasi tersebut menjadi berbalik 180 derajat. Musik dangdut telah masuk dan disukai oleh masyarakat yang termasuk kelas sosial yang dulu “benci mati” dengan musik dangdut. Di era Ikke Nurjanah dan Evi Tamala (to name of view) pada era 1990-an, musik dangdut telah mengalami perubahan yang cukup signifikan. Saat ini, Ridho Roma seolah menguatkan konsep musik dangdut yang lebih nge-pop. Dia ini telah berhasil melahirkan kembali ketenaran lagu-lagu yang ditulis oleh bapaknya pada era yang berbeda. Kemasan baru yang diekspresikan oleh dia telah menjadikan orang pada kelas sosial yang dulu “benci mati” menjadi sedikit “cinta mati”.

Nah, apa lesson learned dari fenomena ini? Menurut saya, salah satu kuncinya adalah kemampuan dalam mengubah perwajahan untuk mendapat perhatian lebih dari pasar. Dalam konteks ini, retail tradisional, sebagai musik dangdut, harus mengubah “alunan” pengelolaan bisnisnya ke arah yang lebih “enak didengar”. Dengan kata lain, gaya pengelolaan retail tradisional harus lebih sesuai dengan minat pembeli. Kalau pembeli ingin kenyamanan, retail tradisional harus memberikan kenyamanan. Kalau pembeli ingin keramahtamahan dalam pelayanan, retail tradisional harus memberikannya. Pokoknya, kalau konsumen menginginkan sesuatu, retail tradisional harus memberikan sesuatu itu.

Memang, konsep perubahan perwajahan mudah dipaparkan. Untuk bisa merealisasikan dan mendapatkan hasilnya, dibutuhkan waktu yang tidak singkat karena tidak semudah membalik telapak tangan. Tapi keseriusan peretail tradisional untuk “mengaransemen ulang syair lagunya” harus terus dilakukan. Peretail tradisional akan memetik hasilnya setelah konsumen mengatakan “belanja di retail tradisional  indifferent dengan di minimarket.

3 responses to this post.

  1. jika seperti maka dibutuhkan yag bekerja ikhlas membangun sistem ekonomi masyarkat menjadi demikian.

    Balas

  2. saya setuju sekali dengan analogi diatas.
    dulunya saya juga bukan pecinta musik dangdut. tapi dengan pengemasan musik
    dangdut yang lebih bisa beradaptasi dengan zaman (oleh Ridho&S2)itu mampu minimal sejajar dengan lagu pop yang ada.
    sehubungan dg yang bapak katakan, mengubah retail tradisional untuk menjadi lebih dilirik oleh konsumen itu tidak mudah. menurut saya:
    pertama, pasar tradisional harus mulai mengerti dengan selera masyarakat sekarang,khususnya kalangan menengah keatas.
    kedua,perlu adanya kerja sama sasama pelaku pasar tradisional unt menyatukan sistem pelayanan,lingkungan,promosi dan mutu barang yg dijajakan.
    ketiga, perlu keseriusan dukungan dari pemerintah. serta menghidari bahkan menghapus praktek penipuan terselubung yang biasa terjadi di pasar tradisional.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: