Merangkai “Puzzle”

Saya seringkali menyampaikan perihal analogi “puzzle” pada mahasiswa sebagai alat bantu untuk menemukan rangkaian dan keterkaitan matakuliah-matakuliah yang ada dalam kurikulum program studi manajemen. Puzzle yang saya maksudkan adalah puzzle mainan yang berisi beberapa keping bidang yang tidak beraturan yang kalau dirangkaikan atau dipasangkan secara tepat pada suatu papan  akan menghasilkan sebuah gambar tertentu.  Gambar ini bisa jadi adalah gambar pemandangan, zoo, dan lain-lain.

Matakuliah-matakuliah dalam kurikulum diibaratkan sebagai keping-keping bidang yang tidak beraturan dalam puzzle. Kalau keping-keping ini dicermati secara tunggal, tampilan gambar dalam keping itu tidak mudah untuk dikenali. Alias, kita tidak bisa secara mudah mengenali gambar apa sebenarnya yang ada pada keping itu. Demikian pula dengan matakuliah, kalau si mahasiswa mengamati suatu matakuliah secara tunggal, “tampilan gambar” dalam matakuliah itu tidak mudah untuk dikenali. 

Nah, mahasiswa harus sering “berlatih” untuk merangkaikan keping-keping yang telah dia miliki. Dia secara telaten dan trial and error mengutak-atik rangkaian keping matakuliah-matakuliah dalam perenungannya. Kalau konfigurasi keping pada trial yang pertama belum membuahkan gambar yang bisa dimengerti, dia harus mencoba untuk trial yang kedua, dan seterusnya hingga gambar yang didapatkan bisa dikenali dan dimengerti. Mahasiswa seharusnya tidak berhenti pada trial yang pertama dan kemudian menyimpulkan bahwa keping-keping yang telah didapatkannya bukanlah kumpulan keping yang bisa dirangkaikan (artinya, dia menganggap matakuliah-matakuliah bersifat independen atau tidak terkait satu sama lain).

Untuk merangkaikan keping matakuliah ini, mahasiswa tidak perlu menunggu hingga semua keping didapatkannya. Kalau ini yang dilakukan, mahasiswa hanya bisa tahu gambar dalam “puzzle” hanya setelah dia menempuh matakuliah pada program studinya. Namun, mahasiswa bisa melakukan proses trial untuk merangkaikan keping-keping matakuliah  pada setiap akhir semester paling telat.  Artinya, setelah mahasiswa menamatkan suatu matakuliah, dia mulai mengutak-atik dan menemukan keterkaitan matakuliah tersebut dengan matakuliah lainnya. Mahasiswa seharusnya melakukannya segera sehingga pada setiap akhir semester gambar pada “puzzle” akan semakin tampak. Kalau ini yang dilakukan oleh mahasiswa, dia akan menemukan konfigurasi atau keterkaitan keping matakuliah yang satu dengan keping matakuliah lainnya setiap semester.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: