Bawang Putih Melambung Tinggi

Seminggu terakhir di minggu kedua  Maret 2013, harga bawang putih menjadi topik. Koran, radio, dan televisi menjadikan ini headline. Bahkan, Presiden RI pun angkat bicara mengenai kenaikan harga bawang ini. Saya beberapa waktu lalu juga menuliskan status di akun facebook “Reportese Ekonomi: Harga Bawang Putih Rp 100.000 kg”. Beberapa teman memberikan comment berkaitan dengan status saya: “konsep ekonomi apa yang bisa menjelaskan fenomena ini?”.  Saya pun balik comment kepada teman tersebut: “konsep supply-demand bisa menjelaskannya”. Bagaimana konsep ini bisa menjelaskan?

Fenomena harga bawang putih adalah contoh aktual dari mekanisme pasar yang bekerja atas dasar interaksi antara supplier dan demander.  Pasang-surut pada sisi supply dan sisi demand secara dinamik akan menghasilkan harga baru untuk suatu komoditas, yang bisa lebih tinggi atau bisa lebih rendah. Harga komoditas akan menjadi lebih tinggi, jika (a) terjadi lonjakan demand dan/atau (b) terjadi pengurangan supply. Sebaliknya, harga komoditas akan menjadi lebih rendah, jika (a) terjadi pengurangan demand dan/atau (b) terjadi penambahan pasokan supply.

Jika disimak lebih jauh, kenaikan harga bawang putih saat ini disebabkan oleh terjadinya pengurangan supply. Dalam kondisi saat ini, demand bawang putih tergolong normal. Tingkat konsumsi masyarakat tidak melonjak. Biasanya, konsumsi bawang putih (dan juga komoditas pertanian yang menjadi kebutuhan primer masyarakat Indonesia, misalnya cabai) akan meningkat secara musiman pada momentum perayaan hari besar keagamaan (seperti hari raya idul fitri). Nah, masa terjadinya lonjakan ini adalah masa yang tidak terkait dengan perayaan tersebut. Dengan demikian, demand dapat tidak mendorong terjadinya kenaikan harga bawang putih.

Selanjutnya, kenaikan harga bawang putih dapat dijelaskan oleh sisi supply.  Statistik yang dikutip oleh Jawa Pos (Minggu, 17 Maret 2013) menyebutkan bahwa kebutuhan bawang putih adalah 400 ribu ton sedangkan total produksi dalam negeri adalah 60 ribu ton. Statistik ini menunjukkan bahwa gap antara produksi dan konsumsi harus dipenuhi dari negara lain (impor). Begitu ada “masalah” dengan impor, pasokan bawang putih menjadi berkurang. Kelangkaan ini, secara teoretis, menyebabkan pergeseran supply sehingga harga ekuilibrium akan meningkat (meskipun demand tidak bergesar).

Lalu, apa yang harus dilakukan?  Tindakan yang bisa dilakukan adalah mengatur supply. Dalam jangka pendek (segera), pasokan dari sisi supply harus dibenahi. Yang paling mudah dilakukan adalah mestabilkan harga dengan melakukan impor. Solusi ini yang mungkin bisa dianggap efektif untuk mengendalikan harga. Dalam jangka panjang, pembenahan supply dan tata niaga bawang putih harus dilakukan. Pembenahan dari sisi produksi domestik harus dikembangkan. Bagaimanapun, kalau produksi domestik tidak mampu memenuhi kebutuhan domestik, ketergantungan terhadap impor bawang putih akan terus berlangsung. Namun, yang perlu diingat adalah tanaman bawang putih, dan tanaman hortikultura lainnya, membutuhkan spesifikasi lahan dan iklim yang sesuai. Perluasan produksi akan terkendala oleh keterbatasan lahan yang sesuai dengan kebutuhan tanaman.

2 responses to this post.

  1. Kekuranngan supply bawang mungkin terjadi karena beberapa faktor yaitu:
    1. Imbas dari kejadian tahun lalu, banyak petani yang merugi karena pada waktu panen besar, pemerintah mengimpor bawang dari cina yang lebih murah. persaingan harga itu membuat banyak petani bawang yang gulung tikar.
    2. Ekonomi politik yaitu pemasok besar sengaja tidak mendistribusikan bawang kepasar sehingga terjadi kelangkaan barang dan harga barang melonjak naik.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: