EKONOMI RAMADHAN: INFLASI

Yang khas dari datangnya bulan Ramadhan adalah tumbuhnya harga-harga barang kebutuhan pokok, seperti daging ayam, daging sapi, telur ayam, lombok, tepung terigu, dan lain-lain. Belum juga hari pertama Ramadhan berlalu, harga-harga barang kebutuhan pokok ini meningkat. Sebagaimana direlease oleh beberapa media, baik media cetak maupun media elektronik, harga daging ayam mencapai Rp 30.000 per kg dan daging sapi mencapai Rp 60.000 per kg.  Alhasil, kenaikan harga pada beberapa komoditas ini akan menyebabkan terjadinya inflasi.

Mengapa inflasi terjadi?

Dalam konteks teoretis, inflasi (atau kecenderungan pertumbuhan (kenaikan)  harga secara umum) dapat dikategorikan sebagai cost-push inflation dan demand-pull inflation. Pada kondisi bulan Ramadhan hingga menjelang lebaran, ragam inflasi yang kedua terjadi. Artinya, kenaikan harga lebih disebabkan oleh adanya kenaikan permintaan dan ekspektasi kenaikan permintaan.

Budaya umat muslim untuk membuat sajian yang spesial, baik untuk berbuka dan sahur,  pada dan sepanjang bulan Ramadhan setidaknya bisa menjelaskan bahwa peningkatan permintaan akan terjadi pada beberapa komoditas kebutuhan pokok. Akibatnya, jika peningkatan permintaan ini tidak diimbangi dengan peningkatan pasokan komoditas, harga komoditas akan meningkat, ceteris paribus.

Apa inflasi ini bisa dikendalikan?

Jika konteksnya adalah budaya, maka inflasi ini akan menjadi budaya juga. Sebagaimana bisa diamati, masyarakat pada umumnya bersifat maklum jika inflasi ini terjadi betapa pun sulitnya kondisi ekonominya. Permakluman ini seolah mengatakan bahwa inflasi pada bulan Ramadhan adalah rutinitas yang tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

Jika konteksnya adalah keberpihakan kepada yang tidak mampu, maka inflasi ini bisa (dan mungkin harus) dikendalikan.  Salah satu upaya yang biasa dilakukan adalah dengan melakukan operasi pasar dan menggelontorkan sejumlah pasokan dengan harga yang murah. Dalam jangka pendek, operasi pasar dapat meredam dan mengendalikan inflasi. Namun, operasi pasar tidak bisa secara terus menerus (dan kenyataannya operasi pasar memang bersifat temporer) karena ini menyangkut ketersediaan pasokan yang cukup untuk digunakan dalam operasi pasar.

Apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat secara  individual?

Hal yang pertama yang bisa dilakukan oleh masyarakat secara individual adalah do nothing alias terima apa adanya. Masyarakat yang bisa do nothing adalah masyarakat yang tidak mempunyai masalah dengan purchasing power.

Berikutnya, masyarakat mengendalikan demand mereka menyesuaikan purchasing power mereka. Sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an, pengendalian demand dapat dilakukan dengan cara melakukan konsumsi secara tidak berlebih-lebihan.

Yang terakhir, yang mungkin paling bisa dilakukan oleh semua lapisan masyarakat dengan berbagai tingkat purchasing power adalah mengabaikan isu atau persoalan ekonomi ini dan lebih berfokus pada ibadah puasa. Bagaimanapun, bulan Ramadahan adalah bulan penuh berkah. Dengan keimanan bahwa puasa adalah proses untuk menuju ke ketakwaan, inflasi pun perlu dikesampingkan (mungkin karena ini masyarakat tidak terlalu worry dengan inflasi). Lalu, mari katakan: Marhaban Ya Ramadhan…Semoga bulan ini mengantarkan pada ketakwaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: