Program Mobil Murah

Sudah seminggu terakhir ini, program mobil murah menjadi trending topic. Lalu lintas pendapat seperti yang bisa kita simak di media massa, baik cetak maupun elektronik, sangat ramai. Lalu lintas pendapat itu diwarnai dengan argumentasi pro dan kontra. Persis seperti ramainya lalu lintas kendaraan di jalan protokol suatu kota.

Kalau kita menyimak pro-kontra pendapat tentang program mobil murah ini, tidak ada pendapat yang salah. Artinya, setiap pendapat mempunyai argumentasi yang kuat dan sama benarnya. Yang kontra menyatakan, misalnya, mobil murah ini akan menyebabkan kondisi jalan macet. Pertumbuhan jalan selama ini sudah tidak seimbang dengan jumlah pertumbuhan kendaraan bermotor. Kalau mobil murah “digerojokkan”, program ini akan memacetkan jalan. Belum lagi, belum ada instrumen yang efisien untuk memastikan bahwa mobil murah ini tidak menggunakan bahan bakar minyak (premium). Kalau pengguna menggunakan premium, persoalan “rutin” berkaitan bahan bakar minyak akan datang lagi. yang seharusnya didorong oleh pemerintah adalah program transportasi massal murah.

Yang pro dengan program ini menyatakan bahwa program ini akan menjadi pendorong dan memperkuat industri otomotif negeri kita. Era globalisasi dan kemungkinan berlakunya ASEAN Economic Community 2015 menuntut bangsa kita untuk lebih kompetitif di segala bidang, termasuk industri otomotif. Argumentasi lain adalah bahwa pembatasan terhadap kepemilikan mobil murah merupakan tindakan yang tidak memberikan kesempatan kepada masyarakat selain yang kaya untuk memiliki mobil.

Sebenarnya apa yang terjadi sekarang ini menjadi “kuliah” yang baik untuk kita semua. Ada yang bisa kita petik dari pro-kontra ini. Suatu fenomena ekonomi bisa diamati dari dua sisi, yakni sisi pro-kontra, sisi positif-negatif, posisi menguntungkan-merugikan. Apa pun fenomena ekonominya, polarisasi pendapat yang seperti ini juga akan terus terjadi. Bahkan, ekonom pun tidak akan mempunyai satu pendapat mengenai suatu fenomena ekonomi, termasuk tentang program mobil murah ini. Jadi, polarisasi ini merupakan hal yang lumrah terjadi.

Lalu, mau mana yang benar diantara keduanya? Yang benar adalah yang kita yakini argumentasinya benar, tanpa ada tendensi atau sentimen. Kalau argumentasi yang pro kita anggap benar, setujui dan belilah mobil murah itu. Kalau argumentasi yang kontra kita anggap benar, tolak dan jangan pernah membeli mobil murah itu. Kata almarhum Gus Dur, “gitu aja kok repot”.

2 responses to this post.

  1. artikel yang menarik bapak, mungkin sebagai ekonom perlu menghitung dulu walfare loss atau walfare gain yang akan diperoleh nantinya…setidaknya untuk memperkuat opini dan memperkecil subjektivitas argumen.
    sedangkan fakultas ekonomi sepertinya sudah siap, terbukti dengan pembangunan parkiran lebih luas..hehe

    Balas

    • parkiran fekon tidak terkait dengan program mobil murah. tapi itu kebutuhan. sivitas akademika fekon unej mayoritas menggunakan kendaraan bermotor. jadi space parkir untuk kendaraan bermotor harus lebih luas…syukur kalau lebih teduh…

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: