Pembatasan BBM Bersubsidi

Minggu pertama Agustus 2014, pasca perayaan lebaran dan Iedul Fitri, dihangatkan oleh rencana digulirkannya pembatasan distribusi BBM bersubsidi. Pada 4 Agustus 2014, pembatasan distribusi solar diberlakukan. Solar bersubsidi akan dibatasi distribusinya, yakni antara jam 08.00-18.00. Pembatasan distribusi BBM Solar ini merupakan rangkaian dari tahap-tahap pengendalian distribusi BBM bersubsidi.

Pembatasan distribusi BBM bersubsidi ini cukup rasional. Per 31 Juli 2014, konsumsi solar bersubdisi sudah mencapai 60% dari kuota APBNP 2014 (9,12 juta kl dari 15,16 juta kl) dan konsumsi premium bersubsidi mencapai 58% dari kuota APBNP 2014 (17,08 juta kl dari 29,29 juta kl). Secara hitungan kalender, persentase serapan konsumsi BBM bersubsidi sampai dengan 31 Juli 2014 adalah 58,33%. Ini berarti konsumsi solar bersubsidi sudah melebihi “jatah” sedangkan konsumsi premium bersubsidi masih dalam batas wajar.

Secara konsep, pembatasan distibusi yang akan diberlakukan akan mampu mengendalikan konsumsi BBM, khususnya solar, bersubsidi. Pembatasan ini akan “memaksa” konsumsi BBM akan dialihkan ke BBM nonsubsidi. Dengan cara ini, kuota BBM bersubsidi tidak akan terlewati.

 

Apakah konsep ini akan berhasil mencapai tujuannya? Bisa ya, bisa tidak. Apa yang dilakukan saat ini adalah pembatasan pasokan saja. Apa yang dilakukan saat ini tidak menyentuh secara langsung sisi permintaan BBM. Kalau semua konsumen menyadari pentingnya pembatasan ini, kebijakan ini akan berhasil mencapai tujuannya. Namun, kalau kebijakan ini disiasati oleh konsumen, hasilnya akan lain. Konsumen masih mempunyai celah untuk memanfaatkan window time yang cukup lebar untuk mengonsumsi BBM bersubsidi, yakni 8 jam sehari. Konsumen akan mengalihkan waktu konsumsinya pada window time tersebut. Jika konsumen berperilaku demikian, kemungkinan terburuknya adalah terjadinya antrian pada SPBU. Pada gilirannya, antrian bukanlah masalah yang serius bagi konsumen dibandingkan dengan selisih antara harga BBM bersubsidi dan harga BBM nonsubsidi. Pada gilirannya, kendaraan pribadi akan mengisi BBM di SPBU di dalam kota sedangkan kendaraan distribusi barang dan penumpang, seperti truk dan bus, akan mengisi BBM di SPBU sepanjang jalur antarkota. Nah, kalau yang terakhir ini terjadi, kebijakan pembatasan ini tidak akan mencapai tujuannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: