Memindahkan PKL Wilayah Kampus

Baru-baru ini, salah satu fenomena menarik secara sosial adalah relokasi pedagang kaki lima di wilayah sekitar Pasar Tanjung, salah satu ikon penting Kabupaten Jember. Relokasi ini relatif lancar dan berlangsung lebih simpel daripada yang dibicarakan oleh berbagai pihak, terutama mereka yang pesimistis dengan relokasi itu. Saat ini, relokasi ini masih dapat dirasakan dampaknya. Jalan di sekeliling Pasar Tanjung sudah relatif lengang dan kembali seperti sekian puluh tahun yang lalu. Berlalulintas dan berkendara di wilayah itu sangat bisa dinikmati sekarang ini.

Fenomena ini bisa dijadikan model atau inspirasi relokasi yang ideal. Relokasi ini melibatkan setidaknya tiga pihak, yaitu pihak Pemerintah Kabupaten Jember, pihak pedagang, dan anggota DPRD Kabupaten Jember. Pendekatan relokasi yang digunakan juga bersifat terencana dan persuasif. Relokasi tidak dilaksanakan secara “gradak-gruduk”, tetapi mulai dari mewacanakan, memberitahukan kapan relokasi akan dilakukan, menyiapkan tempat baru, hingga pelaksanaan relokasi itu sendiri. Aparat yang dilibatkan dalam relokasi ini juga tidak melakukan tindakan represif, tetapi persuasif. Aparat memberikan waktu yang cukup untuk para pedagang untuk membersihkan lapak-lapaknya. Pada hari H, aparat membantu para pedagang mempercepat pembersihan sisa lapak.

 

Begitu pekerjaan rumah relokasi PKL di wilayah Pasar Tanjung selesai, pandangan mata masyarakat tertuju pada PKL di wilayah Kampus Tegal Boto. Suasana jalan Jawa di wilayah kompleks pendidikan sudah bisa dikatakan sebagai suasana pasar yang sebenarnya. Kesibukan dan pertemuan antara pedagang dan pembeli sangat tinggi, tidak saja terjadi di malam hari tetapi sepanjang hari. Alhasil, berkendara dan berlalu-lintas di jalan ini tidaklah senyaman dulu.

 

Secara karakteristik umum, ada perbedaan antara PKL di wilayah Pasar Tanjung dan di wilayah kampus ini. Pertama, tidak seperti PKL di wilayah Pasar Tanjung, PKL di wilayah kampus relatif homogen. Mereka berdagang makanan dan minuman. Kedua, konsumen dari PKL di wilayah ini relatif homogen. Meskipun tidak ada dukungan data, konsumen diduga adalah para mahasiswa dan masyarakat yang tinggal di wilayah kampus. Kelompok konsumen ini diyakini akan relatif kooperatif untuk melaksanakan ide relokasi PKL ini. Ada harapan besar bahwa penataan PKL dan relokasi mereka ke tempat yang baru bisa relatif lebih mudah dilakukan. So, tinggal menunggu timing yang tepat kapan relokasi akan dilaksanakan.

5 responses to this post.

  1. apabila sekitar kampus bersih, kuliahnya jadi nyaman juga Pak.🙂

    Balas

  2. Kebetulan sy jg berasal dr Jember Pak Hadi, dan kaget juga waktu kemarin melewati kawasan Tegal Boto, suasananya sangat kumuh dan berantakan, terkait dengan ketidakteraturan PKL yang berada di sana. Di satu sisi memang meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar, namun di sisi lain kenyamanan dan suasana akademis dikorbankan. Saya rasa pihak kampus harus tegas melarang keberadaan PKL di lingkungan mereka, selain itu menjadi tugas bagi Pemkot Jember untuk menata ulang PKL yang ada. Relokasi saya rasa akan sulit dilakukan mengingat keberadaan mereka dibutuhkan, jd yang terbaik adalah dengan cara menatanya di satu lokasi yang terpusat. Terima kasih atas tulisannya ya pak🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: