Inflation Trap

Beberapa waktu lalu, penetapan Upah Minumum Regional (UMR) ramai dibicarakan. Tarik menarik antara para pekerja dan para pelaku bisnis terjadi dalam penetapan UMR tersebut. Para pekerja menuntut kenaikan UMR sedangkan para pelaku bisnis malah cenderung sebaliknya. keduanya bertindak rasional dari perspektif dan kepentingan masing-masing. Tuntutan biaya hidup, sebagaimana diindikasikan oleh Kebutuhan Hidup Layak (KHL), menyebabkan para pekerja menuntut kenaikan UMR. Dalih kemampuan perusahaan, para pelaku bisnis tidak secara mudah memenuhi keinginan para pekerja.

Berkaitan dengan UMR ini, alur sebab-akibat akan terjadi. Kalau saja KHL benar dan para pebisnis mampu mengikuti keinginan para pekerja, UMR akan naik. Kondisi ini belum full stop, alias masih comma. Kalau UMR naik, biaya produksi pada berbagai komoditas akan meningkat karena para pekerja merupakan factor of production yang memberikan jasa pada perusahaan. Jika marjin keuntungan perusahaan cukup besar, perusahaan mungkin bisa meredam kenaikan biaya produksi ini. Sebalikya, jika marjin keuntungan tidak terlalu besar atau pebisnis menginginkan marjin keuntungan yang sama besarnya dengan yang sebelum kenaikan UMR, tidak ada cara lagi kecuali pebisnis akan menaikkan harga. Efisiensi pada komponen factor of production yang lain terlalu risky untuk dilakukan karena hal itu bisa menyebabkan penurunan kualitas produk atau jasa yang dihasilkan. Dan, jika pebisnis-pebisnis yang menghasilkan berbagai komoditas-komoidtas melakukan gerakan yang sama, harga berbagai komoditas akan naik. Ini artinya inflasi sudah terjadi.

What next setelah inflasi terjadi? Tentu saja, setiap individu akan merasakan inflasi ini, termasuk para pekerja yang menuntut kenaikan UMR. Akibatnya, kenaikan nominal wage (UMR) harus dikoreksi (lagi). Secara real wage, daya beli para pekerja akan menurun (lagi), ceteris paribus. Nikmatnya kenaikan UMR hanya bisa dirasakan beberapa bulan saja dan kemudian para pekerja akan kembali pada kondisi semula. Para pekerja akan kembali pada kondisi dimana UMR tidak mencukupi kebutuhan hidup. Dan kemudian, babak siklus baru dimulai. Tuntutan kenaikan UMR akan terjadi lagi. Dan seandainya, para pebisnis mampu menaikkan UMR, inflasi akan terjadi. Begitu seterusnya dan selanjutnya, ceteris paribus. Alhasil, tarik menarik soal UMR ini selalu menjadi agenda tahunan dan berulang lagi dengan tema yang sama setiap tahun.

Pada kondisi tersebut, ekonomi masuk pada apa yang bisa disebut sebagai inflation trap (jebakan inflasi). Aksi-reaksi antara UMR dan inflasi membentuk spiral yang semakin lama semakin keatas. UMR akan mengejar inflasi. Semakin dikejar, semakin melambung inflasi ini. Trap ini adalah lingkaran setan. Niat baik untuk menyejahterakan para pekerja pada akhirnya bersifat sementara. Pasca kenaikan UMR, kesejahteraan mereka pun (dalam arti daya beli) juga dijamin akan membaik. Lalu apa yang bisa dilakukan untuk keluar dari inflation trap ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: